Untuk lahan gambut, kata Irwan, upaya pemadaman via udara atau waterbombing tidak akan meredakan kebakaran yang terjadi.
Sebagai seorang suami dan ayah, tentu Irwan sering meninggalkan keluarganya di rumah. Rasa rindu terhadap keluarga merupakan salah satu harga yang harus dibayar selama menjalankan tugas.
Jika rindu datang, Irwan kadang menelepon. Namun, dengan kondisi lapangan yang tidak menentu, komunikasi antara Irwan dengan keluarga di rumah tidak berjalan mulus akibat sinyal yang terbatas.
“Pasti (berkomunikasi), tapi kalau ada sinyal. Karena, secara keberadaan saya pasti di dalam hutan,” kata dia.
Meski begitu, Irwan mencoba menenangkan anak dan istrinya dengan rutin berkomunikasi.
Dia juga selalu meminta keluarganya untuk mendoakan agar selalu diberikan keselamatan, kesehatan, dan keberhasilan bekerja.
“Untuk ibu (istri) di rumah dan anak-anak, doakan Ayah supaya sehat dan selamat dalam bekerja,” ujar dia.
Kisah lengkap Irwan sebagai garda terdepan pemadaman karhutla di Sumatera Selatan dapat disaksikan selengkapnya dalam program Podcast Sinergi Indonesia di saluran YouTube Badan Komunikasi Pemerintah RI.
Herman Yakub.
















