Salah seorang penerima manfaat, Siti Rahmah (56), mengaku bersyukur atas perhatian yang diterimanya.
“Bukan hanya soal bantuan, tapi hari ini kami merasa diperhatikan dan tidak sendirian,” katanya.
Hal senada dirasakan Ahmad (68), warga Mentok yang baru mengetahui kondisi tekanan darahnya melalui pemeriksaan gratis tersebut.
“Saya jarang ke puskesmas karena jauh. Pemeriksaan ini sangat membantu,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Ustadz M. Yasir Mustafa, menegaskan bahwa zakat merupakan hak fakir dan miskin yang wajib ditunaikan, bukan bentuk belas kasihan.
“Zakat adalah amanah. Di dalam harta orang mampu, ada hak saudara-saudara kita yang membutuhkan,” tegasnya.
Ia juga mengajak para penerima zakat untuk menjadikan bantuan tersebut sebagai penyemangat untuk bangkit dan mandiri.
“Yang hari ini menerima zakat, insya Allah suatu saat akan menjadi muzakki. Zakat bukan untuk melanggengkan kemiskinan, tetapi memutus mata rantainya,” ujarnya.
Ustadz Yasir menilai, pembangunan yang berpihak kepada masyarakat tidak selalu harus dimulai dari proyek besar dan anggaran tinggi, tetapi bisa dimulai dari nilai keadilan sosial yang diwujudkan secara nyata.
Menurutnya, masjid memiliki peran strategis sebagai pusat ibadah sekaligus pusat pelayanan sosial dan pemberdayaan umat.
“Ketika masjid hidup, masyarakat akan bergerak. Dari sanalah kesejahteraan dibangun,” katanya.
Peringatan HUT ke-25 BAZNAS RI di Mentok berlangsung sederhana, namun sarat makna. Tidak ada panggung megah, namun kehadiran negara terasa nyata di tengah masyarakat.
Melalui penyaluran zakat ini, BAZNAS Bangka Belitung menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan negara di ruang-ruang paling dekat dengan rakyat, memastikan zakat menjadi jembatan keadilan dan harapan bagi masyarakat Bangka Barat.
















