Dua hari sebelum ia ulang tahun ke-60 tahun ini mengajak kami makan siang jelang sore di Pacific Place. Ia memilihkan menu yang menurutnya top, ikan di antaranya. Kami makan bersemangat, Bang Doni lahap.
Di saat suapan kedelapan, benar saya ingat, teleponnya bergetar. Seorang Jend., Pur., meneleponnya.
“Don ayuk gabung kita dukung … Capres 2024, aku di timnya.”
Suara berikutnya saya tak dengar. Ada lebih lima menit makan Doni terhenti.
“Maaf Bang, maaf, saya ikut nanti saja ke yang menang saja. Kalau sudah ada presiden terpilih ke sana kita mengabdi.”
Begitu jawaban Doni.
Ia tak membahasnya lagi, lalu kami makan lagi. Menu dipesan melebihi volume makan kami berempat suami isteri, tak ayal beberapa harus dibungkus, akhirnya.
Sebagai komisaris utama Mindid, saya sempat memaparkan kalau 2024 kita Indonesia sudah meratifikasi konvensi Minamata. Pertambangan emas tidak boleh lagi memproses emas menggunakan Merkuri. Saya sempat mempromokan mini smelter emas bisa tanpa merkuri buatan anak negeri. Kami bersepakat mencari momen untuk survei ke Bogor, ke workshop-nya.
Ketika rencana belum terlaksana, dugaan saya pas ketika di tepi pantai di pokok pohon besar saya tetingat Bang Doni, tepat di gerimis menangis itu Malaikat mencabut nyawanya, pukul 17.35.
Saya usap air mata ini di mobil cepat-cepat. Saya bunuh tangis sambil menggenggam telepon masih online dengan Sandra.
Saya teringat akan setahun saja ia di Pangdam lll, punya program Citarum Harum, kali hitam berbau itu kini sudah memgalami pencemaran rendah dari hitam kelam bin busuk.
Saya terdiam.
Surga di mana dominan hijau dan di mana air bening mengalir. Di luar ia tentara, di luar ia jenderal, di luar ia berdarah Minang, kami merasa dekat, walau hanya satu dua kalai bertemu tapi dilekatkan pemahaman; beningkan air mengalir, hijaukan lingkungan, menanam dan menanam.
Saya yakin, jasadmu harum: doa dari kami dalam air mata terus mengalir. Saya sangat yakin Allah SWT menempatkanmu di-Surga-Nya.
“Video ini luar biasa, bayangan kita dari atas pesawat.”
“Bayangan kehidupan juga, antara kita nyata dan tiada.”
Tanggapannya akan rekaman video dari pesawat Hercules dari Pangkalpinang ke Lampung 21 Maret 2021 itu menjadi eksklusif saya simpan, esok mungkin akan saya posting sebagai perjalanan doa tida henti untukmu Bang Doni***
Oleh Narliswandi Piliang
















