Sementara tahap dua saat ini telah mengedukasi 2.568 orang dengan nilai sampah mencapai Rp17 juta.
“Anak-anak belajar memiliah sampah. Bahkan orang tua ikut menitipkan sampah dari rumah. Ini membentuk budaya baru di lingkungan keluarga,” ungkap Sabri.
Ia pun menerangkan jika program Kolase ditetapkan di SD, SMP, hingga SMA.
Salah satu sekolah, SMA Negeri 5 Cilegon, dalam satu kali penimbangan, mampu mengumpulkan hingga Rp800 ribu.
Bahkan pada penimbangan sebelumnya menembus lebih dari Rp1 juta.
“Di beberapa sekolah, hasilnya dikumpulkan per kelas, ada yang merencanakan uangnya untuk kegiatan bersama, bahkan ada yang dijadikan sedekah sampah untuk membantu sekolah,” tuturnya.
Melalui hasil positif tersebut, DLH Kota Cilegon optimistis perluasan ke 100 sekolah baru dapat terealisasi tahun ini.
Tujuannya agar semakin banyak pelajar Cilegon yang terlibat langsung dalam praktik pengelolaan sampah berkelanjutan.
“Harapannya, siswa tidak hanya paham teori, tapi juga merasakan langsung bahwa sampah bisa menjadi tabungan dan memberi manfaat nyata,” tutup Sabri
Herman Yakub.
















