“Manfaat pendataan ini sangat luar biasa, bukan hanya untuk sembako, tetapi banyak kegiatan kita yang membutuhkan data. Dengan data yang tunggal seperti ini, jika tidak kita cermati, ini bahaya,” ujarnya.
Didit turut menyoroti 41 variabel dalam penentuan desil. Ia meminta kondisi sosial ekonomi daerah turut dipertimbangkan karena karakteristik masyarakat setiap provinsi berbeda.
“Silakan 41 variabel didata, tapi ada komponen-komponen lokal yang harus diperhatikan. Situasi kondisi di masing-masing provinsi dan daerah itu berbeda,” kata Didit.
Sementara itu, Kepala BPS Babel Sugeng Arianto menjelaskan data desil dibangun dari berbagai sumber dan membutuhkan verifikasi serta validasi berkelanjutan.
“Verifikasi dan validasi itu bagian terpenting untuk memastikan keakuratan data sebelum dijadikan dasar implementasi program. Proses updating data ini sebenarnya tidak dipatok berkala saja, tetapi berlangsung terus-menerus,” kata Sugeng.
Ia mengimbau masyarakat dan pemerintah desa aktif memperbarui data serta melengkapi dokumen pendukung agar proses pemutakhiran data berjalan optimal.
















