“Saya mengajar dari jam tujuh pagi sampai jam tiga sore. Setelah itu, saya pantau usaha. Akhir pekan juga dimanfaatkan untuk mengecek bahan baku dan produksi,” katanya.
Untuk menjaga kualitas, WanMiQ hanya menggunakan kulit sapi asli tanpa campuran. Proses pengolahannya dilakukan secara alami, mulai dari pencucian, perebusan, pemotongan, hingga pengeringan sebelum digoreng dengan teknik dua kompor agar kerupuk dapat mengembang sempurna.
“Hasilnya kopong, renyah, gurihnya natural. Ada aroma khas kulit sapi, tapi tidak amis,” jelasnya.
Sejak menjadi Mitra Binaan PT Timah, WanMiQ juga mendapatkan banyak kesempatan promosi melalui berbagai pameran UMKM. Hal ini membuat produk kerupuk kulit WanMiQ semakin dikenal dan kini telah dipasarkan di pasar tradisional, toko oleh-oleh, hingga toko buah.
“PT Timah menjadi jembatan promosi bagi saya. Lewat pameran UMKM, produk saya jadi lebih dikenal,” ujarnya.
Tak hanya permodalan, Novika juga mendapatkan pelatihan pengemasan dan pemasaran produk. Menurutnya, pendampingan tersebut sangat berarti dalam menjaga kualitas sekaligus memperluas jangkauan pasar.
“Terima kasih PT Timah yang terus membantu UMKM. Saya berharap ke depan usaha ini bisa berkembang lebih besar dan membuka cabang,” harapnya.
Dengan semangat kerja keras dan dukungan pembinaan yang berkelanjutan, WanMiQ menjadi bukti bahwa UMKM lokal mampu tumbuh dan naik kelas, sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
“Ke depan, WanMiQ juga berencana menambah varian rasa yang saat ini baru tersedia original dan pedas, serta membuka cabang di Pulau Belitung untuk memperluas pasar,” pungkasnya. (*)











