Air bah yang menghanyutkan kampung kakek membuat ia semakin bersemangat menonton. Dia tak menyangka, perjuangan mendapat peringkat satu gagal karena satu kata, yaitu banjir. Hal itu disampaikan Ustadzah Suci. Laras sedikit mengerti tentang penjelasan itu.
Di ruang tamu, ayah bicara di telepon dengan seseorang. Suara beliau sangat keras hingga Laras yang mendengar penjelasan ustadzah lewat podcastnya menoleh.
Ayah yang sibuk dengan bengkel dan aneka onderdil mobilnya mendadak jadi orang peduli sekali dengan lingkungan dan pastinya hutan.
“Lawan terberat setelah merdeka ternyata adalah pergulatan melawan bangsa sendiri, bukan lagi bangsa asing. Zaman dahulu perlindungan pada hutan dan suaka sudah dimulai, namun dari waktu ke waktu ternyata setelah merdeka justru orang dari bangsa sendirilah yang merusak apa yang dirintis. Para pebisnis perkebunan itulah biang keladi kerusakan hutan di pegunugan dekat kakek kami tinggal.
“Zaman dahulu sudah ada boschwezen atau sejenis dinas kehutanan. Tujuannya adalah menjamin ketersediaan kayu untuk infrastruktur (rel kereta api dan kapal) serta menjaga fungsi hidrologis (sumber air) bagi perkebunan. Ternyata sekarang manusia tak bisa dihadapkan pada kata-kata dan tulisan. Manusia zaman sekarang harus diberi semacam bencana agar mampu menaruh pola pikirnya ke guci yang tepat untuk di minum.”
Seperti biasa di ruang baca, ayah meminum kopi sembari menunggui koran nasional yang beberapa hari terakhir menangisi negeri dengan berita duka bertema lingkungan. Laras dengan piagam peringkat satunya yang sendu mendekat. Ia tak lagi melanjutkan ceramah cinta lingkungan dari ustadzah.
Kali ini yang ia bayangkan hanya berkemas baju dan menuju liburan yang menyenangkan. Sementara suara ayah di telepon semakin keras hingga mematik perhatian Laras untuk mendengarnya.
“Zaman dahulu Pemerintah Kolonial sebenarnya bermaksud memberi keseimbangan dengan dibukanya lahan untuk perkebunan. Bahkan Bukit Barisan adalah tempat terpenting dari perlindungan, sangat berbahaya jika disentuh.
Mentalitas kuli yang terbentuk sejak zaman dahulu sulit diubah hingga sekarang. Memasuki abad ke-20, S.H. Koorders mendorong pemerintah untuk melindungi flora dan fauna unik di Sumatra yang terancam oleh perburuan liar dan pembukaan lahan.”
Saya pun mendengarkan ayah terus menerus berbicara dengan seseorang lewat telepon genggam dengan nada tinggi. Jika dilihat gestur, tampak orang yang berada di seberang sambungan benda nirkabel itu adalah orang yang tak asing.
Ayah tak berubah. Ia masih menggunakan telepon gennggam klasik, bukan gawai modern yang biasa kami pakai. Kata kami HP buat memukul anjing.
“Zaman dahulu perlindungan suaka seperti harimau, gajah, dan badak sumatra di mana kaan tinggal, jika semua beralih ke perkebunan bahkan tambang keseimbangan akan goyah, Wildreservaten tak lagi diindahkan.
Tahun delapan puluhan adalah awal mala petaka dari itu semua. Di Sumatra, banyak kawasan hutan berada di bawah otoritas Zelfbestuur. Pemerintah kolonial melakukan negosiasi dengan para sultan untuk menetapkan batas-batas “Hutan Tutupan”. Masyarakat adat seringkali kehilangan akses terhadap hutan ini, yang kemudian memicu konflik karena aturan kolonial melarang sistem perladangan berpindah (ladangbouw) yang dianggap merusak hutan.”
Perlindungan pada suaka dan hutan berganti dengan perkebunan yang tak mampu menahan tanah. Tanaman-tanaman seperti sawit dan karet adalah tumbuhan manja, tidak mampu memberi perlindungan bagi ekosistem.
Kebijakan perlindungan hutan dan alam di Sumatra pada masa kolonial Belanda merupakan respons terhadap eksploitasi lahan besar-besaran akibat sistem perkebunan. Kebijakan ini berkembang dari sekadar pengelolaan kayu menjadi upaya konservasi keanekaragaman hayati!”
Suara azan dzuhur bergema, dalam salatnya Laras berdoa agar bisa liburan di kampung halaman kakek. Tak biasanya anak sekecil dia berdoa dan sujud lama. Anak bungsu di keluarga kami itu sujud beberpa waktu. Kata Ustadzah Suci, sujud terakhir adalah doa yang sangat ampuh.
Usai solatynya, Laras masih saja mendengar ayah menelpon dan berdebat dengan seseorang di telepon klasik miliknya. Laras hanya berharap doa liburan terwujud.
Tak lama, di depan rumah kami tampak kendaraan online berhenti. Seorang lelaki tua menenteng koper berpakaian Melayu turun dari mobil itu. Seketika Laras berhambur memeluknya.
Disusul kami. Ternyata kakek selamat dan ayah sengaja memberi kejutan pada kami. Beliau tak bercerita kalau akan liburan di sini. Orang yang berbicara dengan ayah sedari tadi ternyata adalah kakek yang datang dari Sumatra.
Dengan menenteng bangga, Laras menunjukkan piagam peringkat satunya pada kakek. Doa si Laras pun nyata. (*)











