“Setelah pelatihan, kami ingin terus jalan. Tidak berhenti di situ saja. Alhamdulillah dengan dukungan PT Timah, sekarang ada wadahnya. Jadi kami bisa lebih serius mengembangkan usaha,” kata Faridah.
Saat ini, sekitar 10 pelaku UMKM telah aktif berkegiatan di Rumah Batik tersebut. Mereka memproduksi berbagai karya batik sekaligus terus mengasah keterampilan.
Namun, dampaknya tidak berhenti di situ. Kehadiran Rumah Batik turut membuka peluang bagi pelaku usaha lain untuk ikut tumbuh.
Mulai dari sektor kuliner, kerajinan tangan, hingga inovasi kemasan produk, semuanya terdorong untuk berkembang lebih kompetitif.
Faridah menilai, dukungan PT Timah tidak hanya berhenti pada penyediaan fasilitas, tetapi juga menyentuh aspek peningkatan kualitas dan daya saing produk.
“Yang kami rasakan, PT Timah benar-benar mendorong kami berkembang. Bukan hanya dibantu, tapi juga diarahkan supaya produk kami lebih bagus, dari desain sampai kemasan. Jadi kami lebih percaya diri untuk bersaing,” ungkapnya.
Ke depan, Rumah Batik diharapkan menjadi embrio pusat ekonomi kreatif baru di Pulau Kundur. Peluang kolaborasi pun mulai terbuka, termasuk pengembangan motif batik yang dipadukan dengan tenun khas Kepulauan Riau.
“Harapannya, pelaku UMKM lokal di Pulau Kundur benar-benar bisa naik kelas,” pungkasnya. (*)










