“Selama ini mineral ikutan timah belum tergarap optimal. Padahal REE bisa menjadi pintu masuk untuk membangun industri mineral kritis dari hulu hingga hilir,” jelasnya.
Jika eksplorasi dilakukan secara komprehensif dan pemerintah memperoleh data cadangan yang valid, tahapan selanjutnya adalah memastikan proses operasi produksi mampu menjangkau dan mengolah mineral ikutan tersebut.
“Setelah data cadangan jelas, industri tinggal dimatangkan. Kita bisa masuk ke fase produksi dan hilirisasi secara bertahap. Ini peluang besar bagi Indonesia untuk bersaing di pasar global mineral kritis,” lanjutnya.
Pemerintah melalui Kementerian ESDM sebelumnya telah menetapkan REE sebagai salah satu mineral prioritas yang akan menopang ketahanan energi dan teknologi masa depan. Hilirisasi mineral kritis disebut sebagai strategi jangka panjang agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah.
Namun, Ichwan menilai strategi tersebut harus dibangun di atas fondasi kuat: eksplorasi, kepastian regulasi, kesiapan teknologi, dan kolaborasi lintas sektor.
“Hilirisasi REE tidak bisa hanya dideklarasikan. Harus ada data cadangan, kepastian hukum, kapasitas teknologi, dan SDM yang mampu menjalankannya,” tegasnya.
Ia menambahkan, percepatan industri REE nasional tidak bisa dilakukan pemerintah seorang diri. Perguruan tinggi, lembaga riset, pelaku usaha tambang, hingga investor strategis harus terlibat bersama.
“REE adalah industri masa depan. Kalau kita serius sejak sekarang, Indonesia bisa menjadi pemain penting di tingkat regional. Tapi semua pihak harus bergerak bersama,” pungkasnya. (*)










