Scroll untuk baca artikel
Pasang Iklan
IMG-20250817-WA0093
hari guru nasional
Opini

Kesuksesan Siswa Dimulai dari Guru yang Bangkit: Renungan Panjang di Hari Guru Nasional

×

Kesuksesan Siswa Dimulai dari Guru yang Bangkit: Renungan Panjang di Hari Guru Nasional

Sebarkan artikel ini
Kesuksesan Siswa Dimulai dari Guru yang Bangkit: Renungan Panjang di Hari Guru Nasional
Kesuksesan Siswa Dimulai dari Guru yang Bangkit: Renungan Panjang di Hari Guru Nasional

Opini Oleh: Ustadz Yasir Mustafa, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Bangka Periode 2025-2030

SEKILASINDONEWS.COM – Pagi itu, embun masih menggantung di ujung dedaunan ketika Yuliana, seorang guru sekolah dasar di pelosok kecamatan, membuka pintu kelas yang kayunya telah memudar dimakan usia. Di halaman, suara langkah kecil murid-muridnya terdengar seperti denting jam kehidupan, ritmis, sederhana, tetapi penuh arti.

“Bu, hari ini kita belajar apa?” tanya seorang murid kelas tiga dengan mata bulat yang memantulkan harapan, seakan dunia belum pernah mengenal kata kecewa. Pertanyaan yang teramat biasa, namun bagi Yuliana adalah pengingat bahwa setiap pagi ia memikul masa depan, bahkan ketika hidupnya sendiri masih penuh tanda tanya.

Setiap 25 November, kisah seperti ini seolah kembali berkeliling di kepala bangsa. Hari Guru Nasional bukan sekadar penanda kalender, bukan pula hiasan spanduk seremonial.

Ia adalah jeda untuk merenung: bahwa di balik setiap anak yang mampu membaca, memahami dunia, dan percaya pada masa depannya, selalu ada seorang guru yang memilih untuk bangkit, meski situasi sering kali tidak berpihak.

Guru Indonesia hari ini berdiri di tengah gelombang perubahan, pergeseran kurikulum, digitalisasi yang melaju cepat, serta ekspektasi publik yang kerap lebih berat dari tumpukan buku pelajaran di meja mereka.

Namun, sebagaimana ditegaskan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam peringatan Hari Guru Nasional 2025 bertema “Guru Hebat, Indonesia Kuat”, guru bukan sekadar aktor di ruang kelas. Mereka adalah pilar peradaban yang menopang kualitas generasi.

Penelitian pendidikan dasar oleh Siti Sarah dkk. (2024) memperkuat hal ini: peran guru sebagai pembentuk karakter tidak tergantikan oleh teknologi apa pun. Guru bukan sekadar pengajar, melainkan penenun nilai hidup, nilai sabar, jujur, berani mencoba, dan berani gagal.

Di kelasnya yang sempit, Yuliana tidak hanya menjelaskan rumus. Ia mengajari anak-anak bagaimana bersikap menghadapi dunia. Di sela menjelaskan pecahan, ia menenangkan murid yang hampir menyerah. Di sela mengoreksi tugas, ia menyelipkan pujian kecil yang mampu membangkitkan harga diri seorang anak yang sebelumnya takut dihina.

Begitulah guru bekerja, dengan hati yang terlatih, dengan kelelahan yang disembunyikan, dan dengan idealisme yang tak pernah benar-benar padam.

Dalam peringatan Hari Guru Nasional tahun ini, kembali ditegaskan bahwa guru adalah “penentu kualitas peradaban.” Namun jauh sebelum kalimat itu dirilis dalam pidato dan siaran pers, guru-guru pelosok seperti Yuliana telah lebih dulu membuktikannya melalui kerja sunyi mereka.

Penelitian oleh Qonita Pradina dkk. (2021) menunjukkan bahwa kehadiran guru berdampak langsung pada disiplin dan karakter siswa.

Sementara riset internasional oleh Cardenal (2024) menyatakan bahwa hubungan emosional positif antara guru dan siswa mampu meningkatkan keterlibatan belajar secara signifikan.

Data ini bukan sekadar angka. Ia adalah wajah-wajah anak yang mulai percaya diri. Ia adalah senyum pemalu yang berubah menjadi tawa. Ia adalah tangan kecil yang berani terangkat untuk menjawab pertanyaan.

Di balik semua itu, ada guru yang tetap memilih hadir, meski honor kadang terlambat, fasilitas terbatas, dan kebijakan pendidikan terlampau sering berubah.

Akses Terus Biar Update
Hari Guru Nasional