Scroll untuk baca artikel
Pasang Iklan
Opini

Kesuksesan Siswa Dimulai dari Guru yang Bangkit: Renungan Panjang di Hari Guru Nasional

×

Kesuksesan Siswa Dimulai dari Guru yang Bangkit: Renungan Panjang di Hari Guru Nasional

Sebarkan artikel ini
Kesuksesan Siswa Dimulai dari Guru yang Bangkit: Renungan Panjang di Hari Guru Nasional

Jika ruang kelas adalah sebuah panggung, maka guru adalah penyair yang setiap hari menuliskan bait-bait masa depan.

Ketika guru menulis rumus di papan tulis yang kusam, sesungguhnya mereka sedang mengguratkan jalan hidup seseorang.

Ketika guru menenangkan murid yang menangis karena tak mampu berhitung, mereka sedang mengajarkan bahwa kegagalan adalah bagian wajar dari kehidupan.

Ketika guru memulai pelajaran dengan senyum, padahal tadi pagi mereka masih bingung memikirkan biaya hidup, mereka sedang memperlihatkan bentuk tertinggi dari pengabdian.

Guru adalah penyair sunyi. Dan sastra mereka adalah manusia-manusia kecil yang kelak tumbuh dengan nilai.

Menurut catatan sejarah ANTARA (2025), Hari Guru Nasional ditetapkan bukan hanya untuk menghormati profesi mereka, tetapi untuk mengingatkan bangsa bahwa Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang lahir pada 1945 adalah simbol perjuangan guru demi martabat bangsa.

Delapan puluh tahun kemudian, perjuangan itu masih terasa sama beratnya. Dari guru honorer dengan gaji yang tak sebanding dengan beban moral, hingga guru desa yang harus berjalan puluhan kilometer untuk mengajar, hingga guru muda yang berjuang mempelajari teknologi dengan dana seadanya.

Bangsa ini hidup di atas pundak guru. Namun jarang sekali kita menoleh dan bertanya: “Apakah mereka baik-baik saja?”

Penelitian oleh Ayusari dkk. (2022) menegaskan bahwa kesejahteraan guru berkorelasi langsung dengan kualitas pendidikan. Guru yang didukung akan menciptakan ruang belajar yang sehat, dan dari sanalah tumbuh siswa yang percaya diri.

Maka Hari Guru Nasional seharusnya menjadi refleksi bersama, bahwa guru butuh lebih dari sekadar seremoni, lebih dari sekadar ucapan terima kasih di media sosial.

Mereka membutuhkan pelatihan berkelanjutan, ruang kreatif untuk berkembang, jaminan kesejahteraan, perlindungan hukum, dan yang tak kalah penting: penghargaan martabat.

Sebab guru yang bahagia akan melahirkan murid yang kuat. Dan murid yang kuat akan melahirkan bangsa yang tangguh.

Hari Guru Nasional 2025 bukan hanya panggilan untuk merayakan guru, melainkan panggilan untuk bangkit bersama guru.

Mereka telah terlalu lama menjadi pahlawan sunyi. Terlalu lama berdiri sendiri dalam perjuangan.

Kini saatnya suara mereka tidak hanya diperingati setiap 25 November, tetapi benar-benar diperjuangkan setiap hari.

Sebab pada akhirnya, kesuksesan seorang siswa, masa depan sebuah keluarga, dan kejayaan sebuah bangsa, semuanya dimulai dari guru yang bangkit, dan dibangkitkan martabatnya oleh bangsa yang mereka layani. (*)

Pasang Iklan
Akses Terus Biar Update
Bangka Belitung Dibaca Lewat Lensa Pesta Babi
Opini
Iduladha PWI Bangka Selatan Iduladha Pemkab Basel Iduladha DPRD Basel