Seorang sumber lokal menyebutkan, keberanian para penambang untuk beroperasi secara terbuka menandakan adanya rasa aman yang mereka miliki.
“Kalau tidak merasa aman, tidak mungkin sebanyak itu berani kerja terus,” ungkapnya.
Sementara itu, hingga kini belum terlihat langkah penindakan signifikan yang mampu menghentikan aktivitas tersebut secara menyeluruh. Aparat memang sempat menyampaikan larangan, namun di lapangan, aktivitas tambang tetap berlangsung tanpa hambatan berarti.
Kondisi ini memperkuat kesan bahwa penegakan hukum berjalan tidak maksimal, atau bahkan tidak menyentuh aktor-aktor utama di balik praktik tambang ilegal tersebut.
Di sisi lain, nelayan hanya bisa bertahan di tengah tekanan yang semakin besar. Sebagian terpaksa mengubah pola melaut, sementara yang lain mulai meninggalkan profesinya karena hasil yang tidak lagi mencukupi.
“Kalau begini terus, kami mau hidup dari apa?” kata seorang nelayan lainnya.
Situasi di perairan Tembelok-Keranggan menjadi potret nyata bagaimana konflik antara aktivitas tambang dan ruang hidup masyarakat pesisir kian meruncing. Di satu sisi, eksploitasi sumber daya berlangsung tanpa kendali. Di sisi lain, masyarakat lokal harus menanggung dampaknya secara langsung.
Hingga kini, pertanyaan mendasar masih menggantung, sampai kapan aktivitas tambang ilegal ini dibiarkan berlangsung, dan siapa yang akan benar-benar bertanggung jawab atas kerusakan yang ditinggalkan?
Jika tidak ada langkah tegas, laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi nelayan dikhawatirkan hanya akan menyisakan keruh tanpa masa depan.
Sementara, hingga berita ini diterbitkan pihak-pihak terkait, termasuk aparat penegak hukum setempat masih dalam upaya konfirmasi. (belva)


















