Scroll untuk baca artikel
Pasang Iklan
OpiniUncategorized

Membentuk Generasi Mafaatihul Khairoot

×

Membentuk Generasi Mafaatihul Khairoot

Sebarkan artikel ini

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan hal yang demikian, salah satunya adalah Apabila dia berada di usia belajar (TK, SD, SMP, dan SMA) maka letakkan lah ia di wadah-wadah yang bisa mencetak kecerdasannya secara akademis maupun non akademis serta tempatkanlah ia di wadah-wadah yang mengajarkan hukum-hukum agama, tentang budi pekerti yang luhur, entah itu dalam kesatuan wadah maupun wadah yang berbeda-beda.

Dan Apabila ia sudah usia (mahasiswa dan kerja) maka terus kembangkan skill dan pengalaman serta teruslah berkreasi, namun jangan lupa untuk selalu hadir dalam majelis-mejelis kebaikan yang didalamnya diajarkan tentang norma-norma agama dan apabila memang tidak sempat hadir, maka jadikanlah para ‘ulama sebagai guru, tempat kita bertanya sehingga kita senantiasa dalam kebaikan. Maka sangatlah penting mencari guru yang memang pandangannya adalah akhirat, bukan guru yang pertimbangannya dunia.

Maka apabila pada suatu masa kelak mereka sudah cerdas secara intelektual, serta emosional dan spiritualnya baik maka akan wujudlah janji Allah sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam Qur’an surat Al-A’rof ayat 96 yang artinya, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Begitu juga dengan negeri ini, sejarah telah membuktikan bahwasanya Indonesia melakukan perlawanan dengan penjajah bukan dengan alat-alat yang canggih, namun hanya menggunakan alat yang sederhana misalnya bambu runcing. Seperti contoh dari salah satu peristiwa legendaris dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yaitu pertempuran tiga hari di Surabaya, Jawa Timur. Arek-arek Suroboyo pada waktu itu melakukan perlawanan kepada pasukan Inggris. Lebih tepatnya pada 28 hingga 30 Oktober 1945, terjadilah peristiwa bergelimang darah. Peristiwa tiga hari tersebut memicu pertempuran 10 November yang diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Mereka menang melawan penjajah bukan karena alat-alat canggih, melainkan dengan kekuatan iman, keyakinan kepada Allah bahwasanya mereka bisa menang, besarnya pahala mati syahid dan itu semua tertanam di hati-hati mereka sebab wadah-wadah pendidikan yang mereka ikuti dan akhirnya mereka tidak gentar sedikitpun melawan penjajah sehingga akhirnya mereka memperoleh kemenangan.

Nah, itu bisa menjadi bukti bahwa betapa pentingnya pendidikan spiritual itu diwujudkan dan ditanamkan pada setiap individu generasi muda bangsa Indonesia baik yang sudah bekerja maupun masih duduk di bangku sekolah, agar mereka menjadi generasi muda Mafaatihul Khairoot (generasi muda yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual) sehingga kelak mereka membawa perubahan yang positif untuk negeri ini, Indonesia maju, Indonesia bermartabat serta tidak adanya korupsi dan tidak ada segala bentuk intimidasi terhadap rakyatnya.

 

Oleh: Debi Ardani (Guru Bahasa Arab dan Al-Qur’an Hadits SMP Muhammadiyah Toboali)

Pasang Iklan
Akses Terus Biar Update

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iduladha PWI Bangka Selatan Iduladha Pemkab Basel Iduladha DPRD Basel