Ia membakar perlahan.
Kepala desa, tokoh adat, guru sekolah mereka semua berkata hal yang sama:
Anak-anak tidak lagi mengenal laut.
Mereka mengenal ponton.
Mereka tidak lagi belajar silat.
Mereka belajar menghidupkan mesin diesel.
Di warung kopi Tempilang, seorang lelaki berkata:
“Kalau timah habis, kita makan apa?”
Tidak ada yang menjawab.
Karena semua tahu jawaban itu, kita akan makan kenangan.
Perang Ketupat sebenarnya peta jalan pembangunan.
Ketupat mengajarkan keseimbangan:
Manusia dengan alam.
Ekonomi dengan etika.
Modernitas dengan tradisi.
Ia mengajarkan bahwa pembangunan bukan hanya PAD.
Bukan hanya APBD.
Bukan hanya angka.
Pembangunan adalah kemampuan sebuah masyarakat menjaga nilai.
Jika Tempilang menjaga ketupatnya, ia menjaga Nusantara.
Jika Tempilang kehilangan ketupatnya, ia kehilangan dirinya.
Tempilang tidak harus menolak tambang.
Tetapi tambang harus tunduk pada budaya.
Tambang harus tunduk pada laut.
Tambang harus tunduk pada manusia.
Yang diperlukan:
Zonasi tambang ketat.
Rehabilitasi pesisir.
Desa wisata berbasis budaya.
BUMDes kreatif.
Pendidikan budaya di sekolah.
Karena pembangunan sejati bukan menggali tanah.
Tetapi menggali manusia.
TEMPILANG SEBAGAI CERMIN INDONESIA
Tempilang adalah Indonesia kecil.
Di sana kita melihat semua dosa pembangunan:
Eksploitasi alam.
Kemiskinan struktural.
Budaya terpinggirkan.
Anak-anak kehilangan arah.
Tetapi di sana juga ada harapan.
Setiap kali ketupat dilempar, anak-anak tertawa.
Setiap kali doa dibaca, laut seolah mendengar.
Setiap kali tradisi hidup, bangsa diselamatkan sedikit demi sedikit.
Pada malam hari, laut Tempilang sunyi.
Hanya suara ponton jauh di kejauhan.
Seorang nelayan duduk di perahu.
Ia berkata pelan:
“Dulu laut memberi kami ikan. Sekarang laut memberi kami lumpur.”
Kalimat itu lebih tajam dari laporan penelitian mana pun.
Karena di dalamnya ada kesedihan yang tidak bisa ditulis dengan angka.
Tempilang sedang memilih sejarahnya.
Apakah ia akan menjadi kota tambang yang ditinggalkan setelah timah habis?
Atau desa budaya yang hidup ratusan tahun?
Pilihan itu tidak dibuat di kantor bupati.
Tidak di meja rapat.
Tidak di konferensi pers.
Pilihan itu dibuat di hati masyarakat.
Di tangan anak-anak yang memegang ketupat.
Suatu hari nanti, mungkin Perang Ketupat tetap digelar.
Tetapi jika laut sudah mati, jika desa sudah kosong, jika anak-anak pergi merantau, siapa yang akan melempar ketupat?
Siapa yang akan membaca doa?
Siapa yang akan mengingat leluhur?
Jika kita tidak hati-hati, Perang Ketupat akan menjadi museum.
Tempilang akan menjadi legenda tentang bagaimana sebuah desa kehilangan dirinya sendiri karena terlalu mencintai timah.
Maka dari pantai Pasir Kuning, dari muara Tanjung Niur, dari warung kopi Air Lintang, dari tangis ibu-ibu nelayan, dari doa tetua adat—lahirlah seruan kecil:
Gali budaya lebih dalam dari timah.
Jaga laut lebih dari keuntungan.
Ajari anak sejarah kampungnya.
Karena bangsa yang kehilangan tradisi akan kehilangan masa depan.
Tempilang tidak meminta banyak.
Ia hanya ingin laut yang biru.
Ikan yang kembali.
Anak-anak yang tertawa.
Dan ketupat yang tetap terbang di langit.
Ketika ketupat dilempar, sebenarnya leluhur berkata:
“Jangan gali tanah terlalu dalam.
Gali hatimu lebih dulu.”
Dan jika kita mendengar bisikan itu, mungkin Tempilang tidak hanya menyelamatkan dirinya.
Ia menyelamatkan Nusantara.
Karena di negeri yang kaya sumber daya ini, satu-satunya harta yang tidak boleh digali habis adalah budaya.
Dan di langit Tempilang yang terbelah antara ketupat dan timah, kita semua sedang diuji:
Apakah kita masih manusia yang ingat asal-usulnya…
atau hanya penambang yang lupa masa depannya.











