Noni Hidayat menambahkan, masyarakat Babel masih memiliki keterbatasan informasi terkait nilai gizi pangan lokal yang dikonsumsi.
“Dengan mengkonsumsi makanan sehari-hari yang beragam, kekurangan zat gizi pada satu jenis makanan akan dilengkapi oleh zat gizi dari jenis makanan lain, sehingga diperoleh masukan gizi seimbang,” ungkapnya.
Ia berharap program Pangan Lokal Goes to School ini mampu membangun kesadaran dan merubah perilaku masyarakat menuju konsumsi Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA).
“Lebih baik sekarang mengurangi makanan yang banyak mengandung pengawet, MSG, atau perasa. Beralihlah ke makanan yang lebih alami dan jauh lebih murah,” pesannya.
Selain itu, lanjut Noni, melalui kegiatan ini generasi muda juga diharapkan mampu mengaplikasikan keterampilan, inovasi, dan kreativitas dalam pengembangan olahan pangan lokal sejak dini.
“Semoga melalui kegiatan ini, generasi muda dapat mengaplikasikan serta mengembangkan keterampilan, inovasi, dan kreativitas mereka dalam olahan pangan lokal,” pungkasnya. (*)




















