Selain DME, pemerintah juga sedang mengkaji opsi lain berupa Compressed Natural Gas (CNG). Berbeda dengan LPG, CNG berasal dari gas dengan komponen C1 dan C2 yang ketersediaannya cukup melimpah di dalam negeri.
“Nah, alternatif ketiga, sekarang lagi masih dalam pembahasan adalah kita membuat CNG. Tapi ini masih dalam pembahasan, saya harus finalisasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penggunaan CNG membutuhkan teknologi kompresi bertekanan tinggi, antara 250 hingga 400 bar, agar dapat digunakan secara efektif oleh masyarakat.
Meski masih dalam tahap konsolidasi dan kajian, pemerintah menilai CNG memiliki potensi besar sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan impor LPG sekaligus mendorong kemandirian energi nasional.
*Stok BBM Aman*
Bahlil Lahadalia, juga melaporkan kepada Prabowo tentang kondisi BBM di Indonesia. Ia menegaskan bahwa kondisi geopolitik di Timur Tengah, termasuk dinamika di sekitar Selat Hormuz, tidak mengganggu ketahanan energi nasional.
“Saya juga melaporkan perkembangan energi nasional, baik dari sisi produk BBM seperti solar maupun bensin. Dari seluruh aspek, alhamdulillah semuanya berada di atas standar minimum nasional,” ujar Bahlil.
Menurutnya, stabilitas tersebut tetap terjaga meskipun dalam hampir dua bulan terakhir dunia menghadapi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi distribusi energi global.
“Alhamdulillah, meskipun sudah hampir dua bulan terjadi dinamika geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait Selat Hormuz, kondisi kita masih stabil,” pungkasnya.
Herman Yakub.




















