Eka menegaskan, integritas karena itu harus tumbuh menjadi budaya organisasi, bukan hanya menjadi kalimat yang terdengar dalam forum-forum resmi.
“Prestasi yang kita bangun harus beriringan dengan integritas. Kita ingin atlet berprestasi, tetapi pada saat yang sama organisasi yang menaunginya juga dikelola secara profesional, transparan dan akuntabel,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan olahraga tidak hanya menjadi tanggung jawab atlet ketika bertanding. Ada tanggung jawab organisasi yang harus dipenuhi sebelum seorang atlet memasuki arena kompetisi.
Ketua KONI Kabupaten Bangka Barat, Martin, menempatkan penguatan tata kelola sebagai bagian dari upaya membangun organisasi olahraga yang semakin profesional.
Menurutnya, semakin besar dukungan dan tanggung jawab yang melekat pada organisasi, semakin besar pula tuntutan untuk memastikan seluruh amanah dikelola secara tertib dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kita ingin membangun prestasi olahraga Bangka Barat secara serius. Tetapi prestasi tidak boleh dipisahkan dari integritas. Semakin besar tanggung jawab organisasi, semakin besar pula tuntutan kita untuk mengelola setiap amanah secara tertib dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Martin.
Martin berharap Rakor tidak berhenti sebagai forum transfer pengetahuan. Ia ingin ada perubahan nyata dalam pola kerja organisasi setelah kegiatan tersebut selesai.
“Saya berharap setelah Rakor ini tidak berhenti pada pemahaman yang kita dapat hari ini. Harus ada perubahan dalam cara kita bekerja. Administrasi harus tertib, penggunaan anggaran harus sesuai ketentuan, dan komunikasi antara KONI dengan Cabor harus semakin terbuka,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi penting karena KONI tidak bekerja dalam ruang yang berdiri sendiri. Pembinaan olahraga merupakan rantai kerja yang melibatkan banyak unsur, mulai dari organisasi induk, Cabor, pelatih, atlet hingga pemangku kepentingan lainnya.
“KONI tidak bisa bekerja sendiri. Prestasi adalah hasil kerja bersama antara KONI, Cabor, pelatih, atlet dan seluruh pemangku kepentingan olahraga. Karena itu, tata kelola yang baik juga harus menjadi komitmen bersama,” ujarnya.
Pada akhirnya, Rakor KONI Bangka Barat bukan hanya berbicara tentang dokumen, angka dan administrasi.
Di balik pembahasan mengenai pajak, kepatuhan, pengawasan dan pertanggungjawaban anggaran, terdapat tujuan yang lebih besar untuk menciptakan ekosistem olahraga yang memungkinkan atlet bertumbuh dan berprestasi tanpa dibebani persoalan tata kelola organisasi.
Sebab, pembinaan atlet tidak berdiri sendiri.
Program harus direncanakan dengan baik. Anggaran harus digunakan sesuai peruntukan. Kegiatan harus terdokumentasi. Pertanggungjawaban harus jelas. Pengawasan harus berjalan. Komunikasi antara KONI dengan Cabor harus terus dibangun.
Dari rangkaian itulah sebuah prestasi sesungguhnya dimulai.
Podium mungkin menjadi tempat seorang atlet menerima medali. Tetapi fondasi kemenangan dibangun jauh sebelumnya di ruang-ruang organisasi, dalam setiap keputusan, setiap rupiah yang dikelola dan setiap tanggung jawab yang dijalankan.
Melalui Rakor tersebut, KONI Bangka Barat menegaskan satu pesan bahwa prestasi bukan hanya tentang bagaimana menang di arena, tetapi juga bagaimana organisasi membangun kemenangan itu dengan cara yang benar.












