SEKILASINDONEWS.COM – PT Timah (Persero) Tbk resmi menggandeng PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) dalam kerja sama strategis pengolahan slag timah dan rare earth elements (REE) atau logam tanah jarang yang selama ini dinilai memiliki potensi ekonomi besar namun belum tergarap optimal di Indonesia.
Kolaborasi dua perusahaan pelat merah tersebut ditandai dengan penandatanganan Conditional Framework bertajuk Sovereign Strategic Mineral Cooperation Framework Pengolahan Slag Timah, Monasit & REE/LTJ Bangka di Gedung Badan Pengaturan BUMN, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Kerja sama ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah mulai serius mendorong percepatan hilirisasi mineral kritis nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri strategis dunia.
Direktur Utama PT Perminas (Persero), Gilarsi Wahju Setijono mengatakan, kesepakatan tersebut bukan sekadar seremoni bisnis, melainkan langkah nyata membangun kedaulatan mineral Indonesia melalui pengelolaan slag timah dan rare earth yang selama ini belum dimanfaatkan maksimal.
“Hari ini cukup membahagiakan karena setelah perjuangan panjang akhirnya kita menyepakati sebuah kolaborasi antara PT Timah dan Perminas. Ini bukan sekadar wacana, tetapi langkah konkret untuk memulai perjalanan baru dalam membangun kedaulatan mineral Indonesia,” kata Gilarsi.
Menurutnya, kerja sama itu akan diarahkan menjadi kemitraan strategis jangka panjang dalam pengembangan teknologi pengolahan slag timah dan rare earth elements di Bangka Belitung.
Ia mengungkapkan, selama ini teknologi pengolahan rare earth masih dikuasai sejumlah negara sehingga Indonesia harus mampu membangun kekuatan sendiri agar tidak terus bergantung pada pihak luar.
“Teknologi pengolahan ini memang cukup strategis dan selama ini banyak dikunci oleh negara lain. Karena itu kami berupaya menghadirkan partner yang tepat agar proses pengolahan bisa dipercepat,” ujarnya.
Direktur Utama PT Timah (Persero) Tbk, Restu Widiyantoro menegaskan, kerja sama tersebut membuka peluang besar bagi PT Timah untuk naik kelas dalam rantai industri mineral nasional.
Selama puluhan tahun, kata dia, PT Timah hanya fokus mengelola bijih timah dari sektor hulu hingga hilir untuk kebutuhan ekspor. Namun kini perusahaan mulai memperluas arah bisnis menuju pengelolaan mineral strategis bernilai tinggi.
“Dengan adanya kerja sama ini, kami memiliki kesempatan untuk naik kelas melalui pengembangan hilirisasi dan pengelolaan mineral strategis,” kata Restu.
Ia menjelaskan, slag timah yang selama ini dianggap limbah ternyata menyimpan potensi besar karena mengandung mineral strategis seperti monasit dan rare earth elements yang memiliki nilai ekonomi tinggi.










