Sementara dari sisi operasional, PT Timah Tbk juga mencatatkan peningkatan produksi bijih timah sebesar 31% menjadi 19.437 ton Sn dan produksi logam timah naik 23% menjadi 18.915 metrik ton.
“Perseroan juga berhasil meningkatkan penjualan ekspor yang mencapai 88% dari total penjualan, dengan enam negara tujuan utama yaitu Korea Selatan, Singapura, Jepang, Belanda, India, dan China,” katanya.
Selain peningkatan laba dan pendapatan, kondisi keuangan Perseroan juga menunjukkan tren positif. Beban pokok pendapatan berhasil ditekan kenaikannya menjadi hanya 1,26%, sementara laba usaha tercatat sebesar Rp 1,76 triliun dengan EBITDA mencapai Rp 2,71 triliun atau melonjak 396% dari tahun sebelumnya.
Tak hanya itu, liabilitas Perseroan juga berhasil diturunkan sebesar 19,08% menjadi Rp 5,35 triliun, dan ekuitas meningkat 19,35% menjadi Rp 7,45 triliun.
“Beberapa rasio keuangan penting Perseroan juga menunjukkan kondisi yang baik, di antaranya Quick Ratio sebesar 73,2%, Current Ratio sebesar 222,0%, Debt to Asset Ratio sebesar 41,8%, dan Debt to Equity Ratio sebesar 71,8%,” ujarnya.
Oleh karena itu, untuk keberlanjutan usaha, PT Timah Tbk terus melakukan eksplorasi dan mencatatkan sumber daya timah sebesar 807.234 ton dan cadangan timah sebesar 312.506 ton pada akhir tahun 2024.
“Perseroan juga akan terus melakukan upaya strategis seperti optimalisasi produksi, perbaikan tata kelola, efisiensi biaya, dan pengembangan anak perusahaan untuk menghadapi tantangan ke depan,” pungkasnya.










