“Di lokasi artificial reef sudah banyak biota laut yang berkumpul, mencari makan, melakukan pemijahan hingga proses pembesaran. Secara ekologi, struktur ini memang dirancang untuk membentuk habitat baru di dasar perairan,” jelasnya, Senin (10/2/2026).
Menurut Indra, manfaat program tidak berhenti pada aspek lingkungan. Rantai kegiatan reklamasi juga melibatkan masyarakat pesisir, mulai dari pembuatan rangka, pengangkutan menggunakan perahu nelayan lokal, hingga proses penenggelaman.
“Ini memberi nilai ekonomi langsung bagi warga. Selain mendapat pekerjaan, habitat baru yang terbentuk juga menjadi fishing ground baru bagi nelayan,” ujarnya.
Hasil pemantauan lapangan menunjukkan indikasi menggembirakan. Pengukuran biomassa ikan konsumsi di titik artificial reef mencatat angka signifikan.
“Biomassa ikan yang lazim dikonsumsi masyarakat tercatat lebih dari 600 kilogram per hektare di lokasi baru artificial reef. Ini angka yang sangat potensial,” tambah Indra.
Ia menilai langkah PT Timah merupakan bentuk tanggung jawab lingkungan atas aktivitas pemanfaatan ruang laut. Meski demikian, program tersebut tetap perlu dievaluasi secara berkala agar dampaknya semakin optimal.
“Program seperti ini seharusnya menjadi role model bagi perusahaan lain, khususnya industri pertambangan, untuk ikut memulihkan laut secara berkelanjutan,” katanya. (*)










