Oalah, kuli kapur, kuli kapur… senasib dengan kuli gelas! Hahaha!” ujar Atok Es.
Kami sering memanggil penjual es itu dengan sebutan Atok Es, sedangkan julukan kuli bagi pendidik mungkin hanya terjadi di negara ini. Saya tak tersinggung. Hal itu seperti wajar dan tanpa beban. Mungkin gambaran gaji guru di negara ini tak layak, sangat kecil, bahkan mungkin tak terlihat seperti kutu.
Tentu itu bukan hal yang merisaukan. Kakek dan sahabatnya itu saling canda tanpa beban. Mungkin merasa apa yang dijalani dan diperoleh sudah jadi pilihan. Perkerjaan mereka bukan lagi beban, melainkan hiburan penunda panggilan Tuhan. Biarlah gaji kecil, asal dijalani dengan rasa syukur, kala halnya lebih baik daripada kufur.
Kakek mengayuh perlahan sepeda ontel besar menyusuri jalanan kering pinggiran desa. Beliau mulai tak kuat mengayuh jauh di siang hari mengajak minum es di bawah pohon rindang. Kakek dan penjual es itu berusia hampir sama, mereka saling tawa karena panas terik membuat es di gerobak sederhana itu laku.
Saya sering terlelap karena kekenyangan di pangkuan kakek. Tikar dari karung melindungi dari tanah di bawah pohon pinggiran pasar itu. Bagi saya pangkuan kakek adalah tempat ternyaman lebih dari apapun. Di sanalah tempat saya menyandarkan mimpi di malam hari. Semenjak ayah dan ibu pergi, kakeklah yang setia memberi tempat yang nyaman serta selimut kala dingin.
Memimpi saya besok dan lusa bisa masuk sekolah, tak membantu kakek mengangkut barang. Saya berharap sekolah kami membahagiakan, membuat siapapun yang belajar di sana nyaman. Agar saya tak jadi pelampiasan para guru muda karena jarang masuk.
Saya meraba motif bunga-bunga di baju putih milik kakek. Seragam itu selalu kakek pakai saat mengajar. Kata orang, beliau adalah guru paling senior. Pejuang pendidik yang mengusahakan kemajuan pendidikan negeri ini sejak empat puluh tahun lalu. Seingat saya, setiap upacara hari besar kakek selalu mendapat undangan ke lapangan pusat kota untuk sekadar menerima tali asih dan bingkisan.
Kakek pernah berkata, kusuma berarti bunga. Pekerjaan guru yang kakek cintai memiliki arti perkerjaan yang kakek kan selalu harum, jadi teladan, dan yang terpenting adalah semangat pengabdian. Seragam serta peci hitam menutupi rambut putih membuat kakek terlihat gagah.
Ontel yang dikayuh sangat tangguh menyusuri jalanan panjang jejak kakek melalui rintangan demi rintangan sebagai guru. Di tasnya ada kapur yang ia beli dari hasil angkut barang.
Zaman sekarang sudah tidak cocok memakai kapur. Saat ini eranya papan interaktif digital. Tapi menurut kakek, secanggih apapun alat mengajar, tak akan mampu mengalahkan tulusnya hati seorang guru. Guru adalah pekerjaan yang sangat mulia, mampu menghasilkan manusia mulia.
Sesampainya di kantor, tampak banyak kado di meja guru, setumpuk, bahkan si pemilik meja tak terlihat karena tertutupi banyaknya hadiah. Tapi sayang, di meja kakek hanya ada setangkai bunga dan satu cokelat. Dengan berlambar surat, perlahan kakek membuka surat itu. Ternyata hanya guru kelas saja yang banyak menerima hadiah hari itu, tidak dengan kakek.
Hari ini lain, selain meriah dengan tukar menukar kado, banyak siswa yang memberikan bingkisan kado pada guru. Tapi berbagai hadiah itu tak sampai pada kakek. Beliau hanya guru terbang tak tetap di sekolah itu. Saya melihat senyuman kakek setelah menerima hadiah satu-satunya hari itu. Tak lain di sana ada nama saya. Cucu sekaligus murid paling setia dalam hidupnya.
Setelah kakek tidur, semalaman beliau tak tahu saya menyiapkan bingkisan di hari guru. Semalam, lama sekali saya memandangi wajah keriput milik beliau. Saya tahu, karena beliau bukan guru kelas, maka hadiah dari saya bisa jadi akan jadi satu-satunya. Semua karena kakek bukan guru tetap.











