Saya tahu, kakek pasti malu karena mendapat hadiah paling sedikit dibanding guru lain. Di kertas lain, saya lukis wajah beliau dengan pensil seadanya. Saya goreskan semirip mungkin. Wajahnya yang jarang tersenyum tak menghalangi saya untuk melukis wajah beliau dengan sangat bahagia. Saya berharap kakek menjadi guru paling bahagia di hari guru tahun ini, meski saya sendirian memberikan hadiah untuknya.
Jika bisa membanding, kakeklah orang paling sabar menghadapi kami. Saya sangat paham betapa perih beliau berbicara tapi kami tak mendengar. Alangkah bandelnya kami, tiap beliah bicara, dan menjelaskan materi sedangkan kami tak mendengar. Padahal apa yang diucapkan barangkali menjadi petuah emas, tapi dasar kami bandel, tak mendengar untaian mutiara yang keluar dari lidah kakek.
Dengan sedikit hadiah itu, mudah-mudahan mampu menguatkan hatinya kuat menghadapi kenakalan demi kenakalan kami tiap hari. Meski sederhana, saya hanya mengharap, detik demi detik senyuman kakek menghadapi kenakalan kami akan selalu mengembang. Seuntai bunga kertas yang saya buat untuk kakek seligus guru membuat tangannya meraih bahuku. Kakek menangis.
Beliau yang tiap hari melarang lelaki semacam saya menangis, mendandak berderai air mata. Mungkin karena gajinya yang kecil, atau bahkan orang tak memandang pengabdian beluau sebagai sungai mutiara yang mengalir sepanjang waktu.
Kakek tertegun sejenak, mengelap kacamatanya. Tampak kacamata itu agak berembun karena isakan dari matanya yang renta. Apalagi hujan di musim ini panjang, membuat halaman sekolah riuh dengan embun usai hujan. Embun itu menjelma pecahan-pecahan yang sedikit menghalangi pandangan mata kakek.
Kakek merayakan hari gurunya yang sepi. Mungkin hari guru hari ini perayaan bagi guru lain, bukan guru tua semacam beliau. Perayaan bagi wali kelas dan guru kelas, bukan guru terbang seperti dia. Helai demi helai rintik gerimis turun di halaman. Sekolah kami yang tak pernah tersentuh rehap sebentar lagi pasti akan becek, lembab, membuat orang tak mau sekolah di situ.
Orang di sekitar kami tak melihat air mata di balik kacamata kakek. Dengan seragam kusuma bangsa yang masih dipakai kakek, kami pun kembali mengayuh sepeda tua. Apalagi hari ini sekolah memulangkan siswanya lebih cepat. Guru-guru akan rapat. Katanya akan membahas lomba mirip-mirip pahlawan. Kakek tidak ikut, toh cuma berstataus guru bantu.
Ibu kepala sekolah berlari menyerahkan amplop. Kata beliau isinya untuk jajan saya. Kakek menerima amplop itu sembari menangis, ibu kepala sekolah juga terisak tersedu-sedu. Kakek menangalkan kapur di meja. Kapur itu sepertinya ikut terisak, satu butir menangis, tetapi butir kapur lain menghibur. Kapur kakek seakan ikut bersedih. Mereka melambai pada kami yang kembali ke rumah.
Hanya selembar kertas berisi lukisan kakek yang mungkin bisa menghibur guru renta seperti beliau. Orang paling bersedih di hari yang harusnya ia rayakan. Kami berhenti di bawah pohon rindang. Di sana beliau, menumpahkan air matanya yang tak bisa tertahan. Tanpa sengaja saya pun terisak, lalu memeluknya. Selamat hari guru ya, kek.
Biodata Penulis

Marhaen Wijayanto, penulis kelahiran Boyolali, Jawa Tengah. Menyelesaikan jenjang Pendidikan dasar di Boyolali dan strata satu di Universitas PGRI Semarang. Saat ini sedang menunaikan tugas sebagai Kepala SD Negeri 7 Simpang Teritip, Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung.
Karyanya berupa cerpen dan artikel telah terbit di media lokal di Bangka Belitung dan Nasional. Mencari Jejak sang Depati dan Roman.











