“Museum ini tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi juga ruang belajar yang bisa membantu generasi muda memahami identitas dan perjalanan daerahnya,” tuturnya.
Antusiasme selama kunjungan juga dirasakan Mohammad Fazil, salah satu siswa SMP Muhammadiyah Toboali. Ia mengaku memperoleh pengalaman baru setelah melihat secara langsung berbagai koleksi yang berkaitan dengan sejarah pertimahan di Bangka Belitung.
Fazil tertarik mengamati benda-benda bersejarah berbahan timah, mulai dari koin, perhiasan, hingga peralatan makan. Selain itu, ia juga mempelajari berbagai jenis batuan, pasir, peralatan tambang, serta alat angkut hasil tambang yang digunakan pada masa lalu.
Menurutnya, melihat langsung koleksi museum membuat materi tentang pertimahan lebih mudah dipahami karena siswa dapat menyaksikan benda-benda yang berkaitan dengan sejarah pertambangan secara nyata.
“Alhamdulillah, kunjungan ini menjadi pengalaman baru bagi saya. Selain mengetahui sejarah pertimahan, kita juga bisa mempelajari secara langsung hal-hal yang berkaitan dengan timah dan hasil tambang,” ujar Fazil.
Tak hanya Fazil, Saqillah Zalyara, siswi kelas VIII SMP Muhammadiyah Toboali, juga mengaku senang dapat mengunjungi Museum Timah Indonesia.
Salah satu materi yang menarik perhatiannya adalah sejarah perjuangan Depati Amir.
“Salah satu materi yang menarik dari kunjungan ini adalah sejarah perjuangan pahlawan daerah Depati Amir. Saya juga ingin memahami sejarah ini lebih jauh, karena ini menjadi bagian penting dari sejarah Bangka Belitung,” tuturnya. (*)










