Khairul mengingatkan masyarakat agar tidak merasa berjalan sendiri dalam menghadapi persoalan.
Menurutnya, keputusan yang diambil tanpa mempertimbangkan dampak dan tanpa melalui komunikasi dapat berujung pada persoalan yang lebih besar.
“Jangan merasa berjalan sendiri sehingga membuat keputusan yang nantinya berakibat fatal pada diri sendiri,” sambungnya.
Khairul berharap kejadian pada 7 Agustus lalu dapat menjadi bahan evaluasi bersama bagi seluruh masyarakat Belitung Timur.
Ia tidak ingin peristiwa serupa kembali terjadi hanya karena persoalan yang sebenarnya masih dapat diselesaikan melalui komunikasi dan musyawarah.
Menurut Khairul, masyarakat Belitung dikenal memiliki karakter guyub, santun, serta menjunjung tinggi budi pekerti dan adab dalam kehidupan bermasyarakat.
Karakter tersebut, kata dia, perlu terus dijaga agar Belitung Timur tetap menjadi daerah yang aman, damai dan nyaman bagi seluruh masyarakat.
“Jangan sampai hal-hal yang tidak kita inginkan seperti kejadian 7 Agustus kemarin terulang kembali. Mari kita kembalikan Belitung Timur seperti sebelumnya, damai dan guyub,” ujarnya.
Khairul meyakini suasana yang aman dan kondusif akan memberikan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat, termasuk membuka lebih banyak peluang ekonomi.
“Kalau Belitung Timur kembali damai dan guyub seperti biasanya, sebagaimana yang diajarkan orang-orang tua kita, insyaallah rezeki dan keberkahan akan kembali hadir untuk masyarakat,” katanya.
Ia kembali mengajak seluruh masyarakat menjadikan kejadian 7 Agustus sebagai pembelajaran untuk membangun komunikasi yang lebih baik ke depan.
“Sekali lagi, setelah kejadian kemarin, mari kita jadikan itu sebagai cambuk dan pemikiran untuk ke depan. Jangan sampai terulang kembali hal-hal yang tidak kita inginkan,” pungkasnya. (*)










