Secara fisik, lanjutnya, mineral Logam Tanah Jarang memiliki berat jenis yang relatif mirip dengan mineral timah. Kondisi ini menyebabkan LTJ sejatinya ikut tertambang dalam proses penambangan timah, namun kerap tidak terpisahkan pada tahap pengolahan lanjutan.
Pemisahan mineral tersebut, menurut Ichwan, dapat dilakukan dengan memanfaatkan perbedaan sifat kelistrikan. Cassiterite bersifat konduktor, sementara monazite bersifat non-konduktor, sehingga memungkinkan pemisahan menggunakan teknologi berbasis kelistrikan seperti High Tension Separator (HTS).
“Dengan teknologi yang tepat, mineral ikutan timah dan LTJ sebenarnya bisa dipisahkan dan dimanfaatkan. Selama ini potensi itu belum dioptimalkan,” katanya.
Lebih jauh, Ichwan menilai pengembangan Logam Tanah Jarang dari sumber daya sekunder menuntut perubahan paradigma industri pertambangan timah. Penambangan tidak lagi semata berorientasi pada kadar timah tinggi, tetapi juga mempertimbangkan nilai strategis mineral ikutan yang menyertainya.
“Untuk memperoleh mineral ikutan termasuk LTJ, penambangan justru perlu dilakukan pada kadar yang lebih rendah. Dengan pendekatan ini, potensi yang selama ini terbuang bisa dimanfaatkan secara maksimal,” ungkapnya.
Menurutnya, pengelolaan SHP secara terintegrasi tidak hanya meningkatkan nilai tambah industri pertambangan, tetapi juga sejalan dengan prinsip efisiensi sumber daya dan keberlanjutan lingkungan.
“Pendekatan ini membuka peluang besar bagi hilirisasi mineral strategis nasional. Limbah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya baru yang bernilai ekonomi dan strategis bagi masa depan Indonesia,” pungkas Ichwan. (*)










