Sepanjang rute menuju Mentok, para siswa melintasi perkampungan, kawasan pesisir, hingga jejak lanskap bekas tambang timah. Pemandangan itu menjadi ruang belajar nyata tentang lingkungan dan sejarah Bangka Barat.
Tanjung Kalian dipilih sebagai titik akhir karena memiliki nilai historis kuat. Mercusuar tua yang berdiri di kawasan tersebut menjadi saksi panjang aktivitas maritim dan perdagangan timah di masa lalu.
Bagi peserta, tiba di Tanjung Kalian bukan sekadar garis finis, melainkan momen refleksi setelah menempuh perjalanan panjang.
“Rasanya bangga bisa sampai di sini dengan usaha sendiri. Kami jadi lebih percaya diri dan kompak sebagai tim,” tutur peserta lainnya.
Selama kegiatan, peserta juga dibekali materi kepramukaan, navigasi sederhana, serta kedisiplinan hidup berkelompok. Setiap malam mereka melakukan evaluasi perjalanan dan merencanakan langkah esok hari.
Pembina menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak bisa dibangun secara instan.
“Di lapangan anak-anak belajar jujur pada diri sendiri, mengakui lelah, mengakui takut, lalu mengatasinya bersama. Itu pelajaran yang tidak mereka dapat dari buku,” ujarnya.
Meski digelar dengan keterbatasan, kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah dan orang tua. Mereka berharap Pengater Prasmanter dapat menjadi agenda rutin untuk membentuk generasi yang tangguh.
Pengembaraan berakhir ketika rombongan tiba di Pantai Tanjung Kalian dengan kondisi sehat dan semangat. Namun bagi 18 siswa itu, perjalanan sesungguhnya baru dimulai, membawa pulang nilai kebersamaan, disiplin, dan kecintaan pada alam Bangka Barat. (*)
















