Sekilasindonews.id Jakarta – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa swasembada pangan menjadi salah satu kekuatan utama bangsa Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global.
Di tengah ancaman krisis ekonomi, perubahan iklim, hingga gejolak geopolitik dunia, kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri dinilai menjadi fondasi penting untuk menjaga ketahanan nasional.
Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat memberikan arahan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10).
Prabowo mengingatkan bahwa kondisi dunia saat ini penuh tantangan, namun Indonesia dinilai masih mampu menjaga stabilitas nasional, terutama dalam sektor pangan yang menjadi kebutuhan paling mendasar bagi masyarakat.
“Kita lihat dunia penuh tantangan. Kita masih bersyukur bahwa kita relatif dalam keadaan baik. Pangan kita terkendali, prestasi kita yang paling utama antara lain kita swasembada pangan dalam waktu cepat,” ungkapnya.
Prabowo mengingatkan bahwa dalam situasi konflik maupun krisis global, pangan dapat berubah menjadi instrumen yang menentukan kekuatan suatu negara. Negara yang memiliki kemampuan ekonomi sekalipun belum tentu dapat membeli kebutuhan pangan dari pasar internasional apabila negara-negara produsen membatasi ekspornya.
“Pangan itu menentukan karena sekarang pangan bisa menjadi senjata, dalam keadaan krisis kita punya uang pun mungkin kita tidak bisa beli beras dari negara lain,” terangnya.
Selain itu, Presiden Prabowo juga mengungkap tantangan perubahan iklim yang dihadapi Indonesia sepanjang tahun 2025-2026. Kondisi kekeringan berkepanjangan dan fenomena El Nino menjadi ujian bagi kemampuan pemerintah menjaga produksi pangan nasional.
Namun, Prabowo menyatakan bahwa Indonesia tetap mampu mempertahankan swasembada pangan di tengah kondisi cuaca yang sulit.
“Kita bersyukur kita sudah swasembada pangan. Di musim yang sangat sulit, 2025-2026 kekeringan cukup panjang kita bisa swasembada. El Nino kita hadapi nanti ada La Nina kita hadapi. Kita sudah punya kontijensi-kontijensi, dengan swasembada pangan relatif kita punya daya tahan,” jelasnya.















