Sekilasindonews.com Sumba Barat Daya — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti tidak sekadar memberikan asupan nutrisi bagi siswa, namun juga menjadi motor penggerak ekonomi baru di tingkat desa.
Hal itu dirasakan oleh dapur MBG dari Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di Kadiwano, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Berkat keberadaan dapur MBG, rantai ekonomi lokal menjadi hidup. Tercipta lapangan kerja bagi masyarakat lokal, terutama ibu rumah tangga, hingga berdayanya petani lokal.
Kepala SPPG Kadiwano, Edwin Putra Kadege, mengatakan saat ini dapur MBG yang dia kelola melayani sekitar 2.000 penerima manfaat yang tersebar di 15 sekolah mulai dari jenjang taman kanak-kanan (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA).
Tentu saja kebutuhan akan bahan baku menjadi besar. Dan ini bisa dipenuhi melalui kerja sama dengan petani lokal. SPPG Kadiwano membutuhkan puluhan bahkan ratusan kilogram sayur-sayuran seperti kacang-kacangan, wortel, atau sawi.
“Jadi, memang kami memberdayakan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) di sekitar SPPG. Dengan adanya MBG, manfaat tidak hanya untuk adik-adik sekolah, tapi lebih luas kepada masyarakat,” kata Edwin, Kamis (12/2).
Untuk menjaga stabilitas stok dan mencegah penumpukan hasil panen, SPPG juga mengatur jadwal suplai setiap minggunya. Hal ini dilakukan agar komoditas yang ditanam petani bisa terserap optimal.
“Ada yang tanam wortel, ada yang tanam sawi, terus ada yang fokus pisang. Supaya jangan menumpuk. Karena kalau menumpuk kewalahan juga,” kata dia.
Meski sebagian besar bahan baku sudah terpenuhi secara lokal, Edwin mencatat beberapa komoditas seperti telur atau kentang masih didatangkan dari luar kecamatan melalui UMKM. Hal ini dikarenakan kapasitas produksi lokal masih minim.
Keberadaan dapur MBG pun menjadi berkah tersendiri bagi ibu rumah tangga (IRT). Mereka diberdayakan untuk memasak.
















