SEKILASINDONEWS.COM – Pendampingan yang diberikan PT Timah Tbk melalui Program Pendanaan Usaha Mikro Kecil (PUMK) membuka peluang lebih besar bagi produk sabun cuci piring berbahan dasar daun sirih bermerek Bunda Fresh untuk menembus pasar yang lebih luas.
Selain dukungan pembinaan, PT Timah juga memfasilitasi pengurusan berbagai legalitas usaha sehingga produk UMKM tersebut kini siap bersaing di pasar modern.
Pendampingan yang diberikan tersebut meliputi pengurusan izin edar, sertifikasi halal, hingga Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Legalitas itu menjadi bekal penting bagi Bunda Fresh untuk memperluas jaringan pemasaran yang sebelumnya terkendala persyaratan administrasi.
Owner sabun cuci piring daun sirih Bunda Fresh, Roteni (54), mengungkapkan dukungan PT Timah menjadi titik balik dalam pengembangan usahanya.
Sebelum mengantongi legalitas, produk UMKM miliknya selama ini hanya dipasarkan secara terbatas kepada anggota Kelompok Wanita Tani (KWT), kelompok PKK, serta masyarakat di lingkungan sekitar karena belum memiliki izin edar.
“Sebelumnya saya belum berani memasarkan secara besar-besaran karena belum memiliki izin edar. Penjualannya masih di lingkungan teman-teman dan anggota kelompok saja. Tapi sekarang izin edar sudah keluar sehingga bisa memasarkannya lebih luas,” katanya.
Roteni menuturkan, usaha sabun cuci piring berbahan daun sirih yang digelutinya itu berawal dari aktivitas dirinya bersama Kelompok Wanita Tani Pandan Wangi yang beralamat di Jalan Pahlawan 12, Kelurahan Keramat, Kecamatan Rangkui, Kota Pangkalpinang.
Saat itu, ia melihat tanaman daun sirih yang tumbuh subur di kebun kelompok belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagian besar hanya dijual sebagai tanaman segar, bahkan kerap dipangkas ketika tumbuh terlalu lebat.
Berangkat dari kondisi tersebut, Roteni mencoba mencari inovasi agar daun sirih memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Setelah mempelajari berbagai referensi, ia kemudian mengembangkan sabun cuci piring berbahan dasar daun sirih.
Proses pengembangannya tidak berlangsung singkat. Selama hampir empat bulan, Roteni melakukan berbagai uji coba untuk mendapatkan formulasi terbaik, mulai dari tingkat kekentalan, daya bersih, hingga tingkat keasaman (pH) agar aman digunakan.
“Banyak daun sirih di kebun KWT yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Saya berpikir bagaimana tanaman ini bisa memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Akhirnya saya mencoba membuat sabun cuci piring berbahan daun sirih,” ujarnya.










