“Kalau kita punya sayur dan cabai sendiri, otomatis uang belanja bisa disimpan. Ekonomi keluarga meningkat,” tutur Anjaseno penuh semangat.
Lebih jauh, ia berharap gerakan pekarangan pangan ini bisa menjadi penopang program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digalakkan Presiden Prabowo Subianto.
“Kami ingin hasil kebun ini bisa disalurkan ke dapur umum agar petani kecil ikut berkontribusi,” ujarnya.
Langkah kecil Anjaseno ternyata mendapat apresiasi dari pemerintah desa dan pemerintah daerah setempat.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Bangka Selatan, Luhung Amin Firdaus, menilai inisiatif tersebut selaras dengan semangat pembangunan pangan daerah.
“Program seperti ini sangat baik untuk dikembangkan. Selain memenuhi kebutuhan sayur rumah tangga, juga membuka peluang menjadi pemasok kegiatan makan bergizi gratis,” ucap Luhung.
Ia menambahkan, gerakan ini bukan hanya soal pangan, tetapi juga upaya nyata menekan angka stunting.
“Kalau dilakukan secara masif, Bangka Selatan bisa menjadi contoh daerah dengan ketahanan pangan berbasis masyarakat,” ujarnya.
Bagi Anjaseno, berkebun bukan hanya tentang menanam sayur, tetapi juga menanam kemandirian, kedisiplinan, dan kebiasaan baik.
“Kalau masyarakat terbiasa menanam, mereka tidak hanya hemat, tapi juga sehat. Dan kalau semua ikut menanam, desa kita akan lebih hijau dan mandiri,” tutupnya dengan senyum bangga. (*)
















