Bukan hanya warga Sawang Laut yang merasakan manfaatnya. Kehadiran sumur bor juga membawa perubahan bagi masyarakat Desa Kundur.
Kepala Desa Kundur, Murhalim, mengungkapkan sebelum sumur bor dibangun, warga harus mengambil air dari sumber yang jaraknya cukup jauh. Bahkan, sumber air tersebut berada di atas bukit dan berjarak hampir dua kilometer dari permukiman warga.
Kondisi tersebut tentu bukan perkara mudah, terutama bagi warga yang membutuhkan air untuk mandi, mencuci hingga memenuhi kebutuhan sanitasi sehari-hari.
“Selama ini warga mengambil air yang lokasinya cukup jauh dan berada di atas bukit. Jaraknya hampir dua kilometer sehingga cukup menyulitkan warga, terutama untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci dan kakus,” ungkap Murhalim.
Kini, persoalan tersebut mulai teratasi. Sumur bor hasil kolaborasi PT Timah dan Kodim 0317/TBK telah dimanfaatkan masyarakat dan mampu melayani kebutuhan air bersih ratusan kepala keluarga di Dusun II.
Murhalim menilai keberadaan sumur bor tersebut sangat berarti bagi masyarakat, terlebih ketika musim kemarau membuat sumber-sumber air warga semakin terbatas.
“Alhamdulillah, manfaat sumur bor ini sudah dirasakan masyarakat. Ini memang menjadi kebutuhan warga karena air sangat penting, terutama ketika musim kemarau,” katanya.
Bagi masyarakat, sumur bor yang dibangun melalui program “Negara Hadir untuk Rakyat” tersebut bukan sekadar fasilitas baru. Lebih dari itu, keberadaannya menjadi jawaban atas persoalan kebutuhan dasar yang selama ini harus mereka hadapi setiap musim kemarau.
Warga kini tak lagi harus bergantung sepenuhnya pada sumber air yang jauh. Akses air bersih yang lebih dekat juga diharapkan mampu meringankan beban masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan warga di tiga desa tersebut.
“Kami berharap dengan hadirnya fasilitas sumur bor ini bisa membantu mengurangi ketergantungan warga terhadap sumber air yang jauh sekaligus memastikan kebutuhan air bersih tetap tersedia, khususnya ketika musim kemarau melanda. Terima kasih kepada PT Timah dan Kodim 0317/TBK,” pungkas Murhalim. (*)










