Namun keberhasilan itu tidak didapat dengan mudah. Tantangan terbesar justru hadir dari pola pikir masyarakat yang masih menganggap persoalan gizi hanya tugas petugas kesehatan.
“Yang paling sulit itu menumbuhkan kesadaran. Tantangannya bukan hanya medis, tapi sosial dan budaya,” tambahnya.
Sarbudiono juga mengungkapkan salah satu kasus yang paling membekas baginya: seorang anak perempuan yang dinikahkan di usia dini karena tekanan sosial.
Keputusan tersebut berdampak panjang, mulai dari risiko kehamilan yang tidak siap hingga potensi melahirkan anak dengan gizi buruk.
“Kita sering lupa bahwa masalah gizi itu sangat berkaitan dengan faktor sosial. Itu yang pelan-pelan kita benahi lewat edukasi,” ujarnya.
Perubahan pola pikir masyarakat mulai terasa ketika tokoh agama ikut menyampaikan bahaya pernikahan anak dalam ceramah, kader desa semakin aktif mengingatkan pentingnya pemenuhan gizi, dan para ibu mulai rutin datang ke posyandu meski harus menempuh perjalanan jauh.
Di balik penghargaan ini juga tersimpan peran besar para ibu yang tidak pernah mendapat sorotan publik. Mereka datang ke posyandu dengan penuh harapan, memastikan anak mereka tumbuh di jalur yang sehat.
“Ada ibu yang datang meski hujan deras. Mereka tidak membawa apa-apa selain keinginan agar anaknya sehat. Itu yang paling menggerakkan kami,” kata Sarbudiono.
Meski telah meraih pengakuan nasional, ia menegaskan bahwa pekerjaan masih jauh dari selesai.
“Penghargaan ini bukan garis akhir. Ini justru pengingat bahwa pekerjaan kita masih panjang. Generasi sehat hanya lahir dari keluarga yang siap dan sadar,” tegasnya. (Belva)





















