“Indonesia juga ada pada laut dan pasir yang kita jaga bersama,” kata seorang siswa kelas XII dengan semangat.
Melalui kegiatan ini, nilai cinta tanah air tidak hanya diajarkan, tetapi diwujudkan secara nyata dalam bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan sejarah daerah.
Hasdiah mengatakan, kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangka Barat juga menjadi bagian dari pembelajaran kebangsaan berbasis lokal.
“Kami ingin siswa peduli terhadap daerahnya, salah satunya dengan mempromosikan wisata sejarah. Kebangsaan juga tumbuh dari rasa bangga terhadap rumah sendiri,” tambahnya.
Kegiatan kokurikuler ini menjadi program perdana di semester baru setelah peluncuran kurikulum nasional dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam.
Puncaknya dijadwalkan berlangsung pada Kamis (13/11/2025), dengan agenda Napak Tilas Sejarah Mentok yang menjadi simbol keterhubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan generasi muda Bangka Barat.
Bagi para siswa, kegiatan ini menjadi pengalaman yang membangkitkan kesadaran baru tentang sejarah dan identitas daerah.
Seorang siswa kelas XI mengaku baru menyadari bahwa Mentok bukan sekadar nama tempat, tetapi bagian dari sejarah panjang bangsa.
“Saya baru sadar, di sini ada sejarah bangsa. Saya merasa sedang belajar tentang diri saya sendiri juga,” ujarnya pelan.
Melalui kegiatan sederhana ini, SMK Negeri 1 Muntok berupaya menumbuhkan kembali nilai nasionalisme di kalangan pelajar muda.
Tidak melalui seremoni besar atau pidato panjang, tetapi melalui langkah kaki di pasir pantai, sapuan tangan membersihkan sampah, dan kesadaran bahwa menjadi Indonesia adalah tanggung jawab setiap generasi. (*)
















