Sementara itu, Wakil Ketua I Bidang Pengumpulan Baznas Bangka Barat, H. Hasim Baharudin, menyebut bahwa meski dana ZIS yang terkumpul belum terlalu besar, komitmen pendistribusian tetap dilakukan secara optimal dan transparan.
“Berapa pun yang terkumpul, semuanya dikembalikan untuk masyarakat Bangka Barat,” tuturnya.
Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian, Wasis Utama Edi, S.Pd, memastikan seluruh penyaluran bantuan memenuhi prinsip-prinsip syariah dan tepat sasaran sesuai kategori asnaf.
“Selama membawa kemaslahatan untuk daerah, kita terus bergerak, tetap dalam koridor syariah,” tegasnya.
Di lapangan, petugas P3KAP2KB dan kader KB desa melakukan pendampingan menyeluruh kepada setiap keluarga penerima. Bantuan yang diberikan dipastikan benar-benar digunakan untuk kebutuhan gizi anak, mulai dari beras, telur, sayur, hingga susu sesuai kebutuhan masing-masing.
“Jika anak sudah pulih sebelum enam bulan, bantuan dialihkan ke keluarga lain. Jika belum, pendampingan dilanjutkan. Program ini bukan sekadar memberi, tapi memastikan gizi anak benar-benar terpenuhi,” jelas petugas pendamping, Eliyanti.
Program Genting sendiri menjadi wujud gotong royong modern yang mengajak donatur individu, organisasi, hingga korporasi menjadi orang tua asuh bagi anak rentan stunting. Kehadiran Baznas memperkuat gerakan ini secara struktur, pendataan, hingga kepastian syariah.
Menutup keterangannya, Ketua Baznas Bangka Barat kembali menegaskan pentingnya kolaborasi semua pihak.
“Tidak bisa hanya satu instansi bergerak. Genting adalah gerakan kemanusiaan bersama, dan Baznas hadir memastikan penyaluran bantuan berjalan tepat sasaran,” ujarnya. (*)
















