Senada dengan Siti, Rahman (19), seorang mahasiswa asal Jebus, mengungkapkan rasa syukurnya. Ia yang nyaris putus kuliah karena biaya UKT merasa mendapatkan harapan baru.
”Saya sempat takut tidak bisa lanjut kuliah semester depan. Tapi dengan bantuan ini, saya merasa punya kesempatan lagi untuk meraih cita-cita. Ini kemerdekaan yang nyata buat saya,” katanya penuh semangat.
Sementara itu, Bupati Bangka Barat, Markus mengapresiasi peran Baznas sebagai mitra pemerintah dalam menegakkan keadilan sosial.
“Saya sangat apresiasi peran Baznas, tanpa mereka (Baznas_red), beban pemerintah jauh lebih berat,” ujarnya.
Pada momen HUT ke-80 Kemerdekaan RI ini, Baznas Kabupaten Bangka Barat membuktikan bahwa dana zakat, meski terbatas, dapat menjadi instrumen efektif untuk membantu masyarakat kecil.
Bantuan yang disalurkan bukan sekadar nominal, melainkan wujud nyata dari kemerdekaan. Ketika rakyat bisa membeli beras, anak-anak bisa bersekolah, dan mahasiswa dapat melanjutkan pendidikannya.
Meski begitu, Baznas Bangka Barat mengakui masih banyak warga miskin yang belum tersentuh bantuan. Dana zakat yang terkumpul terbatas, karena hampir seluruh sumber berasal dari ASN dan pegawai PHL serta honorer.
Namun, efektivitas penyaluran membuat dampaknya terasa nyata di tengah masyarakat. Ketua Baznas merumuskannya dengan sederhana:
Diakhir pernyataannya, Ketua Baznas Bangka Barat, Lili Suhendra menutupnya dengan kalimat sederhana. “Kemerdekaan itu ketika mereka yang tidak mampu bisa mendapatkan hak dan keadilan. Walaupun sedikit, paling tidak kami bisa membantu.” katanya. (blv)
















