“Terima kasih untuk Pak Prabowo. Kaki saya sakit karena polio, saya disabilitas, mata saya juga agak rabun. Tapi saya bisa bekerja di dapur MBG dan bisa membantu orang tua serta memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Rohmat.
Ketika ditanya mengenai harapannya dari pekerjaan tersebut, pemuda berusia 24 tahun ini mengatakan ingin menggunakan penghasilannya untuk membahagiakan orang tua dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Rohmat juga berharap dapur MBG dapat terus memberikan kesempatan kerja tanpa diskriminasi, sehingga penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya memiliki peluang yang sama untuk bekerja.
“Harapan saya dapur MBG bisa terus berjalan dan disabilitas seperti saya bisa bekerja di dapur MBG,” pungkasnya.
Cerita Rohmat menunjukkan bahwa Program MBG tidak hanya bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi anak-anak sekolah, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat secara lebih luas.
Melalui operasional dapur SPPG di berbagai daerah, program ini turut menciptakan lapangan kerja bagi warga setempat, termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak lapisan masyarakat.
Herman Yakub.
















