Dari Gugus Depan di sekolah hingga Kwartir Nasional, Pramuka diharapkan menjadi penggerak swasembada dan ketahanan pangan nasional.
Markus menyebut telah terjalin kolaborasi nyata dengan berbagai pihak, mulai dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) hingga Food and Agriculture Organization (FAO).
Program seperti Training of Trainers (ToT) dan Mobile Training Team (MTT) juga tengah dikembangkan agar anggota Pramuka mampu mengolah lahan, mengelola hasil, dan berkontribusi langsung pada kemandirian pangan.
Ia menambahkan, Pramuka adalah organisasi pendidikan nonformal yang unik karena mendidik tanpa kelas, mengajar tanpa papan tulis, namun mampu menanamkan nilai tanpa batas.
Pendidikan karakter yang diberikan mencakup lima pilar yang disebutnya SESOSIF: kecerdasan spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan fisik.
Upacara ini juga menjadi ajang silaturahmi antara generasi muda, orang tua, guru, dan tokoh masyarakat.
Markus berharap momentum ini mempererat kolaborasi Pramuka dengan masyarakat di seluruh dusun dan kelurahan.
“Semangat kepramukaan harus menjadi denyut gotong royong, melatih kepemimpinan, dan menumbuhkan keberanian menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.
Upacara ditutup dengan penurunan bendera Merah Putih. Meski bendera turun, Markus meyakini semangat Pramuka di Bangka Barat akan terus menyala, menjadi pengikat masa lalu, masa kini, dan masa depan bangsa. (blv)














