“Jembatan sudah saya buka. Sparepart susah, dan kalau terus ditutup itu membahayakan transportasi laut,” ujarnya.
Selain itu, Hidayat juga tengah menyiapkan langkah strategis dengan memindahkan fungsi pelabuhan. Ia menyebut, pelabuhan ekspor akan diarahkan ke Belinyu, pelabuhan penumpang dari Jakarta ke Sadai, sementara Pelabuhan Pangkalbalam difokuskan untuk kapal kecil, nelayan, dan batu bara.
Langkah tersebut akan dibahas bersama DPRD dan dituangkan dalam peraturan daerah sebagai payung hukum.
“Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama. Karena dampaknya menyangkut hajat hidup banyak orang,” tegasnya.
Tak hanya itu, ia juga berencana akan memanggil PT Timah untuk menggarap potensi tambang di dasar sungai. Ia ingin timah dan pasir yang dikeruk bisa dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan daerah.
“Target kita secepatnya. Karena ini masuk wilayah IUP PT Timah, kami akan koordinasi agar kapal isap tradisional bisa ditarik ke sini untuk mengeruk timah. Pasirnya bisa dijual ke Jakarta atau diekspor. Jadi alurnya kembali dalam, timah bisa diambil, pasir dijual, ekonomi kita ikut terdongkrak,” pungkas Hidayat. (*)
















