Scroll untuk baca artikel
Pasang Iklan
BeritaKab. Bangka Barat

Cerita Humanis Lepas Sambut Dandim 0431 Bangka Barat: Pemerintah, Pantun, dan Persaudaraan

×

Cerita Humanis Lepas Sambut Dandim 0431 Bangka Barat: Pemerintah, Pantun, dan Persaudaraan

Sebarkan artikel ini
Cerita Humanis Lepas Sambut Dandim 0431 Bangka Barat: Pemerintah, Pantun, dan Persaudaraan

Acara ini juga mencerminkan peran pemerintah Bangka Barat sebagai penyangga kebersamaan di tengah dinamika sosial. Negeri timah ini tidak lepas dari tantangan tambang yang beroperasi di pesisir, nelayan yang berjuang menjaga ruang tangkap, hingga masyarakat yang menuntut keadilan ekonomi.

Dalam setiap dinamika, pemerintah hadir merangkul semua pihak. Yusderahman menegaskan bahwa sinergitas adalah kunci sinergi antara pemerintah, TNI, Polri, tokoh masyarakat, hingga rakyat kecil.

Pesan ini sejalan dengan visi Bangka Barat membangun daerah bukan dengan konflik, melainkan dengan kebersamaan. Kodim, dalam sinerginya dengan pemerintah, menjadi mitra penting menjaga stabilitas sosial.

Rumah dinas bupati yang pagi itu dipenuhi tawa, pantun, dan air mata, seolah bertransformasi menjadi simbol rumah besar Bangka Barat.

Di halaman itu, pejabat dan rakyat duduk sejajar. Tidak ada jarak. Ada anak-anak berlari, ada ibu-ibu berbincang, ada awak media mencatat. Semua larut dalam rasa yang sama: kebersamaan.

Inilah wajah humanis pemerintah Bangka Barat pemerintah yang membuka pintu rumah dinas bukan hanya untuk urusan birokrasi, tetapi untuk silaturahmi, untuk menjadikan pemerintah sebagai bagian dari denyut nadi masyarakat.

Acara ditutup dengan pantun:

Sungguh harum kayu gaharu,

Tak kalah dengan kayu cendana;

Selamat mengemban amanah baru,

Marwah dijaga sinergitas dibina.

Pantun itu menjadi jembatan: antara perpisahan dan penyambutan, antara duka dan harapan. Filosofinya jelas, bahwa hidup adalah menjaga sinergi, merawat marwah, dan membangun kebersamaan.

Dan di situlah pemerintah Bangka Barat hadir sebagai pengikat, sebagai jembatan, sebagai penyangga nilai-nilai luhur itu.

Pergantian Dandim hanyalah satu peristiwa, namun menjadi cermin bagaimana pemerintah Bangka Barat merawat nilai kebersamaan. Dari podium, Yusderahman menyebut “marwah” sebagai pesan moral. Dari kursi undangan, masyarakat melihat bagaimana pemerintah hadir sebagai keluarga besar. Dari pantun yang dilantunkan, kita belajar bahwa kritik, doa, dan harapan bisa dibungkus dalam bahasa budaya.

Bangka Barat bukan hanya tanah timah. Ia adalah rumah besar yang dijaga marwahnya. Pemerintah hadir bukan hanya untuk mengurus birokrasi, tetapi untuk memastikan rumah besar itu tetap teduh, damai, dan ramah.

Di tanah Sejiran Setason, pergantian komandan bukan sekadar agenda protokoler, melainkan peristiwa humanis yang menegaskan bahwa pemerintah, rakyat, dan militer adalah satu tubuh, satu keluarga, satu marwah. (blv)

Pasang Iklan
Akses Terus Biar Update
Iduladha PWI Bangka Selatan Iduladha Pemkab Basel Iduladha DPRD Basel