“Menurut saya, Sekolah Rakyat sangat membantu. Karena di luar sana masih banyak orang yang putus sekolah karena biaya,” kata Dai.
“Dengan adanya Sekolah Rakyat ini, orang-orang masih bisa punya harapan baru untuk meraih cita-cita ke depannya tanpa harus pusing memikirkan biaya,” tambahnya.
Seluruh fasilitas pendidikan hingga kebutuhan sehari-hari siswa, seperti perlengkapan mandi, sepatu, kaos kaki, tas sekolah, hingga pakaian, disediakan secara gratis oleh Sekolah Rakyat.
Dai juga mengaku bersyukur karena mendapatkan makan bergizi tiga kali sehari di asrama. Selain itu, sistem pendidikan di Sekolah Rakyat membentuk kedisiplinannya dan mengembalikannya pada rutinitas sebagai pelajar.
“Sejak di SR, saya jadi bisa bangun pagi. Waktu masih berdagang, saya sering sampai pagi, bahkan sampai jam 2 atau 3 pagi. Jadi biasanya baru bangun sekitar jam 10. Sekarang, saya selalu bangun pagi,” jelas Dai.
Ketika ditanya mengenai cita-citanya, Dai mengaku ingin menjadi pengusaha. Minat tersebut tidak hanya terbentuk dari pengalamannya berjualan tahu bulat, tetapi juga dikembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler kewirausahaan di sekolah.
Salah satu kegiatan kewirausahaan di SRMA 13 Bekasi adalah budidaya tanaman sayuran. Hasil panen yang dirawat langsung oleh siswa nantinya akan dijual, dan manfaatnya dapat dirasakan oleh para siswa.
“Untuk Bapak Presiden, terima kasih karena sudah mengadakan program Sekolah Rakyat. Kami yang kekurangan biaya jadi bisa punya harapan lagi untuk meraih cita-cita. Yang tadinya sudah putus di tengah jalan, tidak punya biaya, dan tidak tahu harus bagaimana, sejak ada Sekolah Rakyat, kami jadi punya harapan lagi, Pak,” pungkas Dai.
Kisah Dai ini menjadi bukti bahwa kehadiran Sekolah Rakyat tidak hanya sekedar mendidik tentang kedisiplinan, melainkan juga menjadi harapan masa depan mereka yang kurang mampu.
Herman Yakub.
















