“Dapat membangun Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Itulah harapan yang tentunya bangsa Indonesia inginkan bersama,” ucapnya.
Di balik keberhasilan Jhosua, tersimpan kisah panjang perjuangan yang dikenang sang ayah, Martinus Ick. Ia menceritakan bagaimana putranya harus melewati seleksi yang sangat ketat saat masih mewakili Provinsi Papua Barat, sebelum terbentuknya Provinsi Papua Barat Daya.
Menurut Martinus, saat itu Jhosua berhasil menjadi salah satu dari 48 peserta yang lolos dari Papua Barat. Secara nasional, puluhan ribu peserta mengikuti seleksi masuk IPDN sehingga persaingan berlangsung sangat kompetitif.
“Puji Tuhan, kami bersyukur karena semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Masuk kuliah di IPDN tidak semudah yang dibayangkan. Persaingannya sangat ketat,” kata Martinus.
Selama empat tahun menjalani pendidikan, keluarga hanya bisa mengiringi dari kejauhan. Meski tidak menyaksikan langsung setiap proses yang dijalani, mereka meyakini pendidikan di IPDN penuh tantangan dan tempaan disiplin.
“Hari ini kami bersyukur kepada Tuhan. Proses pendidikan selama empat tahun cukup berat. Kami tidak melihat secara langsung, tetapi kami mengimani bahwa perjalanannya memang cukup berat,” ujarnya.
Rasa syukur keluarga semakin lengkap karena pelantikan dilakukan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, sesuatu yang menurut Martinus menjadi kehormatan luar biasa bagi para lulusan maupun orang tua.
“Menurut pandangan kami, pada tahun-tahun sebelumnya yang melantik biasanya Bapak Menteri atau perwakilan. Namun hari ini Presiden datang langsung melantik anak kami bersama teman-temannya. Itu merupakan penghormatan yang sangat luar biasa bagi kami sebagai orang tua, terlebih bagi anak-anak yang hari ini resmi dilantik oleh Bapak Presiden. Kami bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada Bapak Presiden,” ungkapnya.
Herman Yakub.
















