Sebagai contoh, kebijakan tersebut turut mendorong pertumbuhan uang primer (M0) sebesar 11,7 persen pada pekan pertama Februari. Selain itu, pertumbuhan kredit mencapai 10 persen pada Januari, dengan suku bunga pinjaman tetap kompetitif di level 8,80 persen, turun dari 9,12 persen pada Agustus 2025.
“Pertumbuhan M0 sebesar 11,7 persen ini sebetulnya memberi ruang untuk kredit tumbuh double digit juga. Pertumbuhan M0 akan dijaga tetap double digit, dan Bank Indonesia berkomitmen akan mendukung pemerintah dalam hal ini,” jelas dia.
Oleh karenanya, Purbaya kembali optimistis bahwa perpanjangan masa penempatan dana tersebut dapat semakin menggerakkan perekonomian nasional.
“Kami akan evaluasi kembali di September nanti, enam bulan setelah perpanjangan. Harapannya ekonomi sudah semakin bergerak lebih tinggi dan berbagai program prioritas pemerintah semakin terlihat hasilnya,” tutup Purbaya.
Pada September 2025, pemerintah menempatkan dana sebesar Rp200 triliun di bank-bank BUMN untuk meningkatkan likuiditas perbankan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi menjelang akhir tahun. Dana tersebut dialokasikan ke BRI sebesar Rp55 triliun, BNI Rp55 triliun, BTN Rp25 triliun, dan BSI Rp10 triliun.
Herman Yakub.
















