“Kalau dihitung secara rata-rata, ada tiga UMKM yang digandeng oleh SPPG ini. Jadi ini membuktikan bahwa program MBG selain mencapai tujuan Bapak Presiden untuk perbaikan gizi anak-anak Indonesia, juga menciptakan ekosistem supply chain yang baru,” ujarnya.
Seto melanjutkan, DEN juga menemukan bahwa sekitar 64 hingga 65 persen UMKM pemasok berasal dari kabupaten yang sama dengan lokasi SPPG. Hal ini menggambarkan manfaat ekonomi program yang lebih banyak dirasakan oleh pelaku usaha lokal dibandingkan pemasok besar dari luar daerah.
“Nah, yang lebih menarik, ada sekitar 64-65 persen sektor UMKM ini berada di dalam satu kabupaten di mana SPPG itu berada. Jadi ini juga penting bahwa ini bukanlah supplier besar yang masuk, tapi UMKM-UMKM yang muncul itu memang UMKM yang ada di dalam kabupaten atau lokasi di mana SPPG tersebut berada,” jelasnya.
Selain mendorong pertumbuhan UMKM, program MBG juga disebut berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja di daerah. Hasil survei menunjukkan hampir seluruh tenaga kerja yang terlibat dalam operasional SPPG berasal dari masyarakat sekitar.
“Yang ketiga temuan kita adalah tenaga kerja itu hampir 99 persen memang berasal dari warga sekitar,” kata Seto.
Bertalian dengan itu, program MBG berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen. “Jadi ini kami juga melihat ini juga menjadi salah satu pendorong kenapa kemarin pertumbuhan kita mencapai 5,61 persen ya,” pungkasnya.
Herman Yakub.
















