Seorang pelatih tari, Mardiana, mengaku ruang tampil seperti ini menentukan masa depan regenerasi.
“Anak-anak butuh panggung. Kalau tidak difasilitasi, mereka akan lebih memilih meniru budaya luar daripada mengenal akar sendiri,” ujarnya.
Komitmen Pemkab Bangka Barat juga terlihat dari rencana integrasi seni dengan sektor pariwisata. Dinas terkait menyiapkan kalender event budaya agar festival tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi menjadi magnet kunjungan ke Mentok dan sekitarnya.
Wakil Ketua DPRD Bangka Barat, Arman, yang turut hadir menilai langkah Markus sebagai terobosan penting.
“Daerah kita lama dikenal karena timah. Sekarang mulai dikenal karena budaya. Ini lompatan narasi yang sehat,” ucapnya.
Di balik gemerlap lampu panggung, pesan yang ingin ditegaskan pemerintah daerah cukup jelas: kebudayaan adalah benteng sosial.
Di tengah arus digital dan perubahan gaya hidup, seni tradisi menjadi penyeimbang agar generasi muda tidak tercerabut dari akarnya.
Markus bahkan menyebut pemerintah sedang menyiapkan beasiswa bagi talenta seni berprestasi serta bantuan kostum dan alat musik untuk sanggar desa.
“Kami tidak ingin seni hidup musiman. Harus ada keberlanjutan,” tegasnya.
Seruni Art Festival 2026 akhirnya ditutup menjelang tengah malam dengan penampilan kolosal seluruh peserta.
Penonton berdiri memberi aplaus panjang, seolah mengamini bahwa Bangka Barat sedang memasuki babak baru.
Di era Markus, panggung seni bukan lagi ruang pinggiran. Ia dipindahkan ke tengah, berdiri sejajar dengan agenda ekonomi dan infrastruktur. Sebuah pesan bahwa daerah ini memilih tumbuh tanpa menanggalkan jiwanya.
















