“Hingga bulan Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 5,55 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-Maret 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas USD 10,63 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD 5,08 miliar,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (4/5).
Pergerakan masyarakat pada Januari-Maret 2026 juga menunjukkan peningkatan signifikan. Tercatat ada 319,51 juta perjalanan wisatawan nusantara dalam 3 bulan pertama di 2026, naik 13,14 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.
Momentum ini menunjukkan aktivitas ekonomi tetap hidup di tengah masyarakat, sekaligus mencerminkan daya beli yang terjaga.
Adapun inflasi bulanan April 2026 tercatat sebesar 0,13% dan 2,42% secara tahunan. Ateng mengatakan kenaikan tarif angkutan udara dan harga bensin menjadi faktor dominan.
Meski begitu, tekanan inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga sejumlah komoditas. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru mengalami deflasi 0,20 persen. Penurunan harga ini memberi kontribusi menahan inflasi secara keseluruhan.
“Beberapa komoditas juga ada yang memberikan andil deflasi diantaranya daging ayam ras dengan andil deflasi 0,11 persen, emas perhiasan dengan andil deflasi 0,09 persen, cabai rawit serta telur ayam ras masing-masing 0,06 persen dan 0,04 persen,” tutup Ateng.
Herman Yakub.




















