Ia mengaku bangga melihat keberanian siswa menampilkan hasil karya mereka di depan guru dan teman-temannya.
“Kadang anak-anak sebenarnya punya kemampuan besar, tetapi mereka kurang ruang untuk menunjukkan itu. Hari ini kami ingin mereka merasa percaya diri dengan karya mereka sendiri,” ujarnya.
Selain lomba kreatif, kegiatan juga diisi dengan Senam 7 KAIH yang melibatkan guru dan pelajar dalam suasana santai dan penuh kebersamaan.
Menurut Teni, pendekatan pendidikan yang terlalu menekan justru dapat membuat anak kehilangan semangat belajar.
Karena itu, Disdikpora Bangka Barat mulai mendorong pola pendidikan yang lebih humanis dan membangun suasana emosional yang sehat di lingkungan sekolah.
Ia menilai tantangan pendidikan saat ini bukan hanya soal kemampuan akademik, tetapi juga bagaimana menjaga karakter generasi muda di tengah pengaruh media sosial dan perkembangan teknologi digital.
“Teknologi itu penting, tetapi karakter tetap harus menjadi pondasi utama. Anak-anak harus tetap belajar menghargai orang lain, memiliki etika dan rasa tanggung jawab,” katanya.
Teni berharap peringatan Hardiknas tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga mampu meninggalkan pengalaman positif bagi anak-anak.
Menurut dia, rasa senang saat belajar menjadi salah satu faktor penting dalam membangun masa depan pendidikan yang sehat.
“Kami ingin anak-anak merasa bahwa belajar itu menyenangkan, bukan sesuatu yang menakutkan atau membebani,” ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi jalan perubahan bagi masa depan anak-anak daerah.
Karena itu, setiap anak harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai potensi masing-masing.
“Setiap anak punya mimpi dan kemampuan. Tugas pendidikan adalah membantu mereka menemukan itu,” tegasnya. (*)














