Kampoeng Reklamasi Air Jangkang dan Kampoeng Reklamasi Selinsing tak hanya sekadar lahan bekas tambang. PT Timah menyulap kedua kawasan ini menjadi ruang integrasi antara sektor pertanian, peternakan, perkebunan, hingga edukasi lingkungan.
Di kawasan ini, masyarakat bisa menemukan peternakan sapi, kambing, dan ayam. Menariknya, kotoran dari hewan ternak juga dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas yang digunakan langsung untuk kebutuhan rumah tangga seperti kompor.
“Transformasi kawasan ini menjadi lebih produktif menunjukkan bahwa reklamasi bukan hanya sebatas penghijauan, tapi juga pemberdayaan. Kami ingin kawasan ini memberi manfaat ekonomi dan edukatif bagi masyarakat sekitar,” ujar Anggi.
Langkah PT Timah ini sejalan dengan target pemerintah dalam mendorong bauran energi nasional melalui pemanfaatan sumber energi terbarukan seperti matahari. Apalagi Indonesia memiliki potensi besar dalam energi surya yang melimpah dan berkelanjutan.
ESG Jadi Standar Baru Operasi Tambang
Tak hanya untuk efisiensi energi dan perlindungan lingkungan, proyek PLTS ini juga menjadi bagian dari strategi PT Timah dalam memenuhi standar Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kini menjadi tolok ukur penting dalam keberlanjutan operasional perusahaan.
“Perusahaan kini tidak bisa lagi hanya fokus pada keuntungan. Dampak sosial dan lingkungan juga harus dihitung dan dikelola dengan baik. Karena itu, green energy menjadi langkah penting kami,” kata Anggi.
Melalui pemanfaatan PLTS dan optimalisasi kawasan reklamasi, PT Timah tidak hanya menciptakan solusi bagi masa depan energi, tetapi juga membuka peluang untuk pemulihan ekonomi masyarakat lokal lewat pengembangan sektor-sektor produktif.
Dengan berbagai inisiatif ini, PT Timah menegaskan posisinya sebagai pelaku industri tambang yang bertransformasi ke arah yang lebih berkelanjutan, hijau, dan inklusif.















