Selain modifikasi cuaca, Danang Wicaksana mendorong penguatan sistem pemantauan titik panas atau hotspot serta kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran.
Menurutnya, pencegahan harus menjadi prioritas karena penanganan karhutla setelah api membesar membutuhkan sumber daya yang jauh lebih besar.
Ia juga mengingatkan bahwa karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi dapat mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, transportasi, hingga kualitas udara.
“Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan. Dampaknya bisa merembet ke kesehatan, transportasi, ekonomi masyarakat, bahkan mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan sedini mungkin,” kata Danang.
Legislator Partai Gerindra itu berharap BMKG bersama seluruh pemangku kepentingan dapat terus memperkuat langkah antisipasi selama periode kemarau ekstrem. Menurutnya, kesiapsiagaan dan respons cepat menjadi kunci agar ancaman karhutla dapat ditekan.
“Jangan bekerja setelah terjadi bencana. Kita harus mengedepankan mitigasi, deteksi dini, dan respons cepat. Dengan begitu, risiko karhutla selama kemarau ekstrem dapat diminimalisir,” pungkasnya.
Herman Yakub.
















