Edi juga mengingatkan maskapai agar memahami konteks kearifan lokal.
Ia menekankan bahwa masyarakat Bangka Belitung tengah menjalankan tradisi Ceng Beng, yang identik dengan penggunaan kembang sebagai bagian dari ritual penghormatan leluhur.
“Pihak maskapai harus sadar mereka terbang karena ada penumpang. Kita harus menghormati tradisi warga Tionghoa di Bangka Belitung,” ujarnya.
Selain itu, Edi menyoroti insiden lain yang melibatkan maskapai yang sama, yakni gagalnya 29 santri berangkat ke Jakarta beberapa hari lalu, yang kini tengah diproses di Polda Bangka Belitung.
“Dua kejadian ini mencederai kami sebagai wakil rakyat. Ini menyangkut hak konsumen. Saya minta hukum ditegakkan dan manajemen segera memperbaiki sistem pelatihan karyawan,” tegasnya.
Ia berharap kejadian serupa tidak terulang karena berpotensi merusak citra maskapai dan mengganggu mobilitas masyarakat Bangka Belitung.
Redaksi.
















