Namun kondisi tersebut mulai berubah ketika keluarganya menerima manfaat program MBG melalui posyandu. Menurut Merianti, makanan yang dibagikan melalui program itu membuat anak-anaknya bisa menikmati makanan yang sebelumnya jarang mereka dapatkan.
“Sejak dapat MBG ni, Pak, ibaratnya tuh kadang anak nggak bisa makan buah, ibaratnya nggak bisa makan susu tuh bisa makan susu lah, bisa makan buah, bisa makan bolu,” ungkapnya.
Ia juga merasakan perubahan pada kondisi kesehatan anak-anaknya. “Iya, ada perkembangan, Pak. Iyalah ibaratnya tuh lancar, ibaratnya tuh badannya ini kan sehat,” urainya. “Selama punya MBG nih ya pintar lah, Pak. Aktif yang ini aktif, ini aktif,” imbuh Merianti sambil menunjuk ke dua anaknya yg berada di pangkuannya..
Meski sempat berhenti mengambil MBG selama hampir dua bulan karena banjir dan harus mengungsi ke rumah orang tuanya di Celika, Merianti kembali rutin mengambil makanan dari posyandu sejak Januari. Ia mengatakan, berat badan anak-anaknya sempat kembali menurun selama sekitar dua bulan tidak mengambil MBG dari Posyandu Teratai 2.
Kini ia kembali mengambil MBG agar anak-anaknya tetap mendapatkan asupan makanan yang lebih baik.
“Cuman kami ini merasa bersyukur lah, Pak. Walaupun dikit banyaknya kami terima, ya bersyukur. Kami nak dapat MBG ini kan makasih banyak. Kadang dari Perigi dipindah ke Kayu Agung. Mak itu nah tapi nggak susah lagi berjalan, mak itu nak kepanasan,” katanya.
Sebelumnya, kedua anak Merianti terdaftar di Posyandu Perigi sehingga ia harus berjalan kaki sekitar 30 menit hingga satu jam untuk mengambil MBG dari rumahnya. Sejak September lalu, penerima manfaat MBG dialihkan ke Posyandu Teratai 2 di Lebak Permai.
Di rumah kecil di tepi rawa itu, bantuan makanan sederhana telah menghadirkan perubahan kecil, namun sangat berarti, bagi kehidupan Merianti dan anak-anaknya.
Herman Yakub.
















